Senin, 02 Agustus 2010

Lulur Tradisional: Lulur kunyit tepung beras

Siapa bilang beras hanya bisa dimakan. Ternyata lebih dari itu, beras sangat bermanfaat untuk merawat kehalusan kulit. Serat kasar dari tepung beras ternyata mampu mengangkat sel-sel kulit mati. Sehingga beras dapat digunakan sebagai lulur tubuh.
Nah, kali ini saya ingin berbagi resep lulur yang terbuat dari bahan dasar tepung beras. Sangat sederhana dan dapat anda lakukan sendiri di rumah.
Bahan-bahan :
1 kg temugiring
1 kg kunyit
1 ltr air putih
1 ons tepung beras
Cara Membuat :
Kupaslah temugiring dan kunyit. Lalu parut hingga benar-benar halus. Campur dengan 1 liter air dan peraslah. Endapkan selama kurang lebih 2 jam. Kemudian pisahkan air dengan endapannya. Buanglah airnya dan gunakan endapannya untuk dicampurkan secara merata dengan tepung beras. Jemurlah adonan tersebut dibawah terik matahari hingga kering sempuna. Jika perlu ovenlah sebentar dengan suhu 50 derajat celcius. Setelah benar-benar kering, ayak dan sangrai. Lalu simpan di tempat yang kering.
Cara Menggunakan :
Ambil secukupnya (kurang lebih 4 sendok makan) lulur scrub beras tadi. Campur dengan air mawar secukupnya. Atau jika tidak ada air mawar, maka cukup gunakan air putih biasa yang benar-benar bersih bening. Aplikasikan ke seluruh tubuh secara merata yang sebelumnya telah mandi bersih. Tunggu beberapa saat hingga setengah mengering. Lalu gosong-gosoklah sambil dipijat-pijat ringan. Dengan demikian, bukan hanya sel-sel kulit mati yang terkelupas, tetapi peredaran darah pun menjadi lancar. Setelah itu barulah dibilas hingga bersih.
Gunakan seminggu sekali. Dan jangan lupa selalu gunakan pelembab atau body cream setiap kali selesai berlulur.
Selamat Mencoba !

Syahrini dan Calon Diva Masa Depan


Anang bertekad untuk menjadikan putri sulungnya menjadi seorang diva di dunia musik tanah air. Dia ingin anaknya itu bisa mengikuti jejak sang ibu, Krisdayanti yang tercatat sebagai diva.
Anang mulai konsentrasi untuk membuatkan album untuk anaknya itu. Konsentrasi Anang menjadi terbagi antara mengurusi Syahrini dan juga putrinya yang akan dijadikan diva baru.

Mengenai kesibukan Anang yang sedang mengurusi album untuk anaknya, Syahrini mengaku tidak khawatir duda dua anak tersebut akan melupakan dirinya. Dia juga tak khawatir akan bersaing dengan anak Anang dalam bermusik.

"Saya orang pertama kali yang support dan saya sudah izin sama Mas Anang akan seperti apa Aurel nanti. Tidak ada persaingan. Yang pasti di dunia musik itu bukan untuk bersaing tapi saling support," kata Syahrini saat ditemui di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat.

Syahrini bahkan berniat membantu untuk menata penampilan anak Anang jika putrinya itu akan tampil dengan album barunya. Seperti diketahui, hubungan Syahrini dengan kedua anak Anang memang berjalan dengan baik.
Mereka sangat dekat dan bahkan tanpa sungkan anak pertama Anang itu sering mencurahkan isi hatinya dengan teman duet ayahnya tersebut.

"Aurel itu harus dikontrol makanannya, karena saya ingin membuat dia kurus. Setahu saya dia lagi lahap banget sama makanan, dan yang ditakuti adalah badannya akan melebar. Ditambah lagi, dia itu tinggi. Jadi, lebih baik slim karena mukanya cantik," ucapnya.

Untuk urusan busana yang akan dikenakan Aurel saat manggung nanti, Syahrini akan membicarakannya dengan tim desainer kira-kira pakaian apa yang tepat untuk remaja putri tersebut.

"Saya akan konsultasikan sama desainer. Saya bersama tim kita yang akan urus," ujarnya. 

Aisha, Korban Mutilasi Hidung


Majalah terkemuka TIME, yang akan terbit 9 Agustus 2010, memuat foto yang mengerikan. Gambar tragis seorang perempuan muda Afghanistan berusia 18 tahun, Aisha.

Dengan kulitnya yang terang, juga rambut panjangnya yang panjang, hitam, dan bergelombang, Aisha akan terlihat menonjol, meski berada di tengah keramaian.

Itu dulu. Aisha kini memang masih mampu jadi pusat perhatian, tapi dengan alasan berbeda. Karena kini dia mengerikan.

Aisha adalah korban kebiadaban Taliban, hidung dan telinganya dimutilasi, dipotong oleh suaminya sendiri. Demikian dimuat situs Daily Mail, Selasa 3 Agustus 2010.

Kisah tragis itu terjadi sebelum tengah malam. Militer Taliban menggedor pintu dan memerintahkan hukuman atas diri Aisha karena dia melarikan diri dari rumah suaminya.

Aisha memohon ampun dan menjelaskan bahwa suaminya memperlakukannya seperti budak. Ia hanya punya dua pilihan, bertahan dan mati, atau melarikan diri. Aisha memilih opsi kedua.

Namun, penjelasan itu tak digubris komandan Taliban setempat. Lalu, adegan mengerikan terjadi. Kakak iparnya memeganginya, lalu suaminya sendiri mengeluarkan pisau.

Pertama, dua telinga Aisha dipotong. Lalu pria itu dengan tega memotong hidung istrinya sendiri, Aisha.

"Ini bukan kejadian 10 tahun lalu. Kisah tragis ini baru terjadi tahun lalu," demikian dimuat dalam situs TIME, 29 Juli 2010.

Aisha kini berada di sebuah lokasi persembunyian rahasia di Kabul. Dia menentang keras pemerintah Afghanistan yang mempertimbangkan mengakomodasi Taliban dalam politik.
"Mereka yang melakukan kekejaman ini, aku korbannya. Bagaimana bisa ada rekonsiliasi dengan Taliban," kata Aisha, sambil memegang wajahnya.

Aisha bersedia dipotret untuk menunjukkan pada dunia apa yang dilakukan Taliban pada warga Afghanistan, dan terutama kaum perempuan.

Redaktur Pelaksana TIME, Richard Stengel menjelaskan alasan mengapa pihaknya memuat sampul kontroversial itu.

Kata dia, butuh waktu panjang dan energi besar untuk memutuskan memuat foto Aisha. Salah satunya, adalah memastikan keselamatan perempuan malang itu. Aisha adalah simbol harga mahal yang dibayar perempuan Afghanistan atas ideologi represif Taliban.

Juga memikirkan efeknya jika sampul ini dilihat anak kecil. "Kami telah berkonsultasi dengan beberapa psikolog anak terkait potensi buruk jika gambar ini dilihat anak kecil."

Beberapa psikolog mengatakan ini bagian dari gambaran kekerasan di media. "Namun, Dr Michael Rich, Direktur Pusat Media dan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Anak Boston, mengatakan gambar ini adalah simbol kejadian tragis yang bisa terjadi pada setiap orang."

"Kami meminta maaf pada pembaca yang keberatan dengan pemuatan gambar ini. Kami mengundang komentar pembaca soal dampak foto ini."

"Namun, sekali lagi, hal buruk bisa terjadi pada setiap orang, ini adalah tugas kami [jurnalis] untuk menguak dan menjelaskannya pada publik," tambah Stengel.