Tampilkan postingan dengan label aLL aBouT woMan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aLL aBouT woMan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Januari 2013

Facial Larissa: Harga Facial Green Tea, Yam Beam dan Mesotherapy Gold

Minggu pertama di awal tahun baru ini aku sama ibu mertua menikmati akhir pekan di Larissa Aesthetic Center Jember. Sebenernya ibu mertua pengin ke LBC. Cuman yah kalo ke LBC aku kemungkinan ga bakalan beli produknya :D Mahal bok. Ga begitu terjangkau sama kantongku yang masih kantong mahasiswa.
Nah, sebelum kesana aku googling dulu. Liat2 ada promo apa aja di Larissa. Secara kan masih aroma menyambut taun baru.
Hihihh, maunyaa kalo ada diskonan :D
Bener firasatku *firasatsalesucker* ternyata ada Xmas Promo yang berlaku sampe tgl 6 januari.
Akhirnya, meluncurlah kita ke Larissa.
Setelah baca2 menu, akhirnya aku putusin treatment facial green tea. Terus ibu aku saranin ambil meso yang gold. Nah, waktu itu kan ade ipar aku ikut juga. Dia jerawinya lebih parah daripada aku. Dia pengennya yang whitening. Jadilah dia ambil facial yang yam beam. Aku tanya sama dia kok ambil yang itu kan dia masih sering jerawatan. Akhirnya setelah adeku itu setuju, aku balik ke cust officernya ganti facial adeku yang yam beam ke green tea. Lah kok mbaknya malah bilang ngga apa2 adeku itu pake yam beam secara jerewinya ga separah aku. Glekh! MG, masa iya separah itukah aku dimasa puberku yang uda lewat?? Hah? Ciyus mbak? It really makes me wondering. Jadi akhirnya adeku tetep facial pake yam beam.
Setelah facial, aku sama ibu masi lama nungguin si ade yang ga kunjung selese facialnya. Padahal, ibu yang lebih dulu dipanggil, habis itu adeku itu. Terakhir aku. Nah ini malah adeku lamaa ga selese2 juga. Sekitar 30 menitan nunggu akhirnya ade aku itu keluar juga dengan muka yang celonteng ga keruan sambil bilang 'kata mbaknya jerawatku banyak'. Hahahaa! Dasar mbak cust office abal2. Udah dibilangin malah ngece. Huhh. Waktu dateng kita ga konsul sama dokternya sih. Kata mbaknya dokternya sibuk. Wah emang si mbak ini, sesuatu banget sikapnya. Ckckck. FYI, Larissa di Jember baru sekitar setaun ini beroperasi. Pegawainya kebanyakan juga dari daerah kerasidenan Besuki. Jadi bener2 capster baru semua. Huhh.
Untuk treatment and product sih so far aku suka lah. Malah masih mau kesana lagi. Tapi untuk poin pelayanannya sih menurutku ga total banget. Heuuuwhh.

~ Facial Green Tea utk kulit berjerawat IDR 85.000
~ Facial Yam Beam utk Whitening IDR 80.000
~ Meso Gold IDR 200.000

Untuk produknya aku review lain kali yah neng :) Yang jelas produknya murce bin terjangkau sangat. Hihihii. Ibuku ajah beli yg green tea: facial foam, night cream, day cream cuman abis IDR 125.000 and sekarang wajah ibu mertuaku jadi bersih, kinclong, muluss luss lusss luuusssssss. :D

Sabtu, 30 Juli 2011

Berdayakan Bekas Teh Celup

Well, ladies. Sebenernya nih aku uda pernah bahas tentang hal ini sebelumnya. Tapi karena lagi mood, aku bahas lagi aja yaa.
Ladies pernah gg ngerasa sayang waktu ngebuang bekas teh celup yang baru sekali pakai? Pasti pernah kan. Iya kan? Iya donk. Iyalaah. Nah, kalo ladies sayang bekas teh celup itu dibuang gitu aja, berdayakan donk ladies. Gimana caranya? Caranya gampang banget kok.

Bekas teh celup yang udah dingin bisa dipakai sebagai masker instan untuk wajah dan mata. Caranya, tempel bekas teh celup yang udah dingin itu langsung ke mata and usapkan ke wajah. Diemin selama beberapa saat. Lalu bilas dengan air. Pasti deh rasanya adem banget. Nah, jadinya bekas teh celup itu nggak sayang kan. Ladies bisa nikmatin minumannya sekaligus merawat diri tuh. Biar tambah cantik  kulitnya =D

Senin, 13 Desember 2010

Johnny Andrean School vs Johnny Andrean Salon

Buat para pemula yang belum pernah mencoba Johnny Andrean School & Training dan Johnny Andrean Salon, sebaiknya Anda, terutama para mahasiswa, mencari tahu info mengenai keduanya terlebih dahulu. Johnny Andrean Salon menyediakan Johnny Andrean School & Training bagi mereka yang ingin menyalurkan hobby dan bakatnya. Dilatih oleh tenaga-tenaga profesional dan didukung oleh peralatan yang lengkap, membuat Johnny Andrean School & Training siap mencetak seorang kapster yang profesional. Setelah lulus dari pelatihan ini, trainee akan mendapatkan sertifikat kelulusan menjadi seorang kapster.Karena baru pemula, maka jelas tarif perawatan antara Johnny Andrean Salon dan Johnny Andrean School & Training berbeda hampir 90%.
Apabila Anda memilih untuk coba-coba dan tidak merogoh kocek terlalu dalam, maka Johnny Andrean School & Training adalah tempat yang cocok untuk Anda. Tetapi dengan satu catatan penting: kapster yang ada adalah pemula dan tidak dijamin keprofesionalannya! Berdasarkan pengalaman pribadi saya, Johnny Andrean School & Training bisa dibilang cukup memuaskan bagi kalangan mahasiswa, hehee. Kebetulan saya punya sedikit referensi tarif perawatan Johnny Andrean School & Training Surabaya Plasa Lt. 3:

Hair Treatment:
Gunting + Blow       : Rp    9.000
Cuci Blow               : Rp  10.000
Creambath + Blow  : Rp  15.000
Hair Spa + Blow     : Rp  20.500
Hair Mask + Blow   : Rp  21.000
Keriting + Blow       : Rp  27.000
Bonding + Blow       : Rp  92.000
Smoothing + Blow    : Rp147.000
Make Up                  : Rp 14.000
Refleksi                     : Rp 19.000
Back Therapy           : Rp  18.000
Manicure/Pedicure    : Rp  20.000

New Services:
Wave Spa + Blow     : Rp  73.000
Hair Refresh + Blow  : Rp  23.000
Glow Color + Blow   : Rp  53.000
Glee Color + Blow    : Rp  53.000

Harga tsb untuk pemakaian produk standar, untuk pemakaian produk diluar standar, seperti vitamin, akan dikenakan biaya tambahan. Harga diatas untuk perawatan rambut medium.
Tarif Johnny Andrean School & Training hampir 90% dibawah Johnny Andrean Salon Pro. Nah, silahkan dipertimbangkan lagi. Percantik diri Anda dengan harga spesial!

Rancang Pola Makan yang Baik pada Masa Kehamilan

Makanan merupakan salah satu kunci utama untuk mendapatkan sebuah kehamilan yang sehat. Dengan melakukan cara makan yang sehat, bukan hanya akan membuat ibu hamil fit dan sehat, tapi juga akan membantu perkembangan yang sehat bagi bayi dalam kandungannya. Ingat bahwa perkembangan bayi dalam kandungan sangat tergantung dari apa yang anda berikan dan lakukan baginya. Dalam masa kehamilan salah satu bagian yang penting dalam membantu perkembangan janin dalam kandungan adalah apa yang anda makan dan bagaimana cara makan anda selama kehamilan itu. Untuk itu, anda perlu mempelajari dan mempertahankan tentang prinsip-prinsip yang baik selama kehamilan anda. Beberapa prinsip makan yang baik selama kehamilan:

Ubah Pola makan. Ubahlah cara makan anda meskipun anda sudah merasa makan dangan baik. Ingat, anda sekarang sedang hamil maka diet makanan anda harus mengikuti diet makan untuk ibu hamil. Pada kehamilan Anda membutuhkan lebih banyak konsumsi protein ,kalori (untuk energi),vitamin dan mineral seperti asam folat dan zat besi untuk perkembangan bayi anda juga. Ingat, anda membutuhkan tambahan 300 kalori perhari.
Menghindari makanan yang membahayakan. Diantara makanan yang harus dihindari adalah daging dan telur mentah, keju lunak ,susu yang tidak di pasteurisasi, alkohol, juga kafein. Untuk lebih lengkapnya mengenai makanan yang harus dihindari, silahkan baca artikel: Makanan Yang Harus Dihindari Selama Kehamilan
Jangan diet selama kehamilan. Kehamilan bukan masa yang tepat untuk diet karena hanya akan membahayakan ibu dan bayi diet selama hamil akan menyebabkan kurang vitamin, mineral dan lain-lain yang penting selama kehamilan. pertambahan berat badan pada kehamilan merupakan salah satu tanda yang baik pada kehamilan yang sehat. Ibu hamil yang makan dengan baik akan bertambah berat badannya secara bertahap, umumnya akan melahirkan bayi yang sehat.
Makan dengan Porsi Kecil tapi Sering. Pada trimester pertama biasanya terdapat keluhan mual muntah, cobalah atasi dengan makan dengan porsi kecil tapi sering, hindari makanan pedas dan berminyak. Makan dengan porsi yang kecil tapi di lakukan beberapa kali dianjurkan setiap empat jam.Ingat, meskipun anda tidak lapar tapi bayi anda membutuhkan makanan secara teratur.
Minum Vitamin Kehamilan Secara Teratur. Makanan yang anda makan adalah sumber vitamin yang paling baik, tetapi apakah anda yakin diet makanan anda cukup mengandung vitamin yang dibutuhkan selama kehamilan, yang terutama zat besi dan asam folat yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan bayi sehat ? Untuk itu, anda sebaiknya meminum vitamin secara teratur.
Minum Air yang Cukup. Usahakan minum air 8 gelas sehari.Karena anda butuh cairan yang cukup bagi anda dan juga bayi anda. 33% pertambahan berat badan pada kehamilan adalah cairan. Cairan di butuhkan untuk membangun sel darah merah bayi untuk sistim sirkulasinya cairan ketuban. Tubuh anda juga perlu air selama kehamilan untuk mengatasi konstipasi dan mengatur suhu tubuh.
Makanan Berserat, Buah-buahan dan Sayuran. Perbanyaklah makan-makanan yang berserat tinggi. Buah-buahan dan sayuran dapat membantu mengatasi konstipasi anda selama kehamilan.

Sehat di Masa Kehamilan

Selamat datang di sembilan bulan yang menakjubkan! Lengkapi dengan tips ini agar kondisi anda lebih sehat dan bugar.

TRIMESTER 1

Bulan 1
Asah asam. Maksudnya tentu asam folat. Mengkonsumsi 400 mg asam folat setiap hari selama 12 minggu pertama kehamilan anda akan menjaga janin dari cacat lahir. Di saat periksa kehamilan pada dokter obgin, anda juga perlu minta pendapatnya apakah perlu tambahan resep atau tidak.
Sudahlah ! Berhenti merokok dan minum alkohol adalah hadiah terbaik yang bisa anda berikan untuk bayi anda. Ini juga termasuk tidak mewarnai rambut anda menjadi coklat, merah atau biru sekalipun! Walaupun hasil riset menunjukkan bahwa aman-aman saja mengecat rambut ketika hamil, banyak dokter obgin yang menyarankan agar ibu hamil menunda dulumewarnai rambut sampai trimester ke-2.
Hentikan mual. Jadikan makan sebuah pisang sebagai ritual dipagi hari, bahkan mungkin sebelum anda bangkit dari tempat tidur. Perut kosong membuat rasa sakit akan makin parah. Setelah itu lewati hari anda dengan konsumsi makanan tinggi karbohidrat, seperti roti atau crackers. Ada juga ibu hamil yang menyembah pada biskuit jahe, teh atau hidangan yang memiliki rasa segar macam salad, jus jeruk dan teh mint.
Simpan energi. Jangan tunda tidur anda begitu ngantuk sudah menyerang ( anda memang harus rela tidak lagi nonton Empat mata-nya pak tukul!).juga biarkan pe,mbantu rumah tangga ( atau suami ) melakukan pekerjaan beres-beres rumah. Tentu anda tak boleh lupa melakukan olahraga ringan setiap hari.
Tak perlu cemas! Mungkin anda sangat khawatir pada keguguran, namun jangan jadikan kecemasan itu menggangu kebahagiaan kehamilan anda. Ingat-ingat saja bahwa keguguran terjadi karena ketidak normalan, jadi sering kali hampir tidak ada yang bisa anda lakukan untuk mencegahnya dan tak ada alasan untuk menyalahkan diri sendiri bila itu sampai terjadi.

Bulan 2
Makan cermat dan cerdas. Ada beberapa jenis makanan yang dapat menganggu janin anda. Hindari: jeroan yang mengandung vitamin A derajat tinggi sehingga dapat mengakibatkan cacat lahir;telur mentah atau setengah matang yang dapat meningkatkan resiko keracunan makanan; keju lunak ( soft cheese ) yang sangat mungkin mengandung listeria, bakteri yang dapat menyebabkan kelahiran prematur; sushi dan sashimi.
Jangan mengejar matahari. Hormon-hormon kehamilan menyebabkan sel-sel pigmen kulit bekerja lebih giat sehingga ibu hamil menjadi ekstra-sensitif pada paparan sinar UV. Maka sangat dianjurkan agar anda lebih banyak dan lebih sering mengoleskan tabir surya dikulit.
Hindari varises. Efek samping kehamilan yang tak membahagiakan ini akan timbul di 10 minggu pertama kehamilan anda. Cegah si varises dengan mengenakan stocking khusus yang dapat dibeli digerai alat-alat kesehatan, atau konsultasi pada obgin untuk obat salep yang direkomendasikan.

Bulan 3
Wanita besi. Kebanyakan perempuan menderita kekurangan zat besi saat hamil. Walaupun tak ada hubungannya dengan kesehatan dan kekuatan janin, kurangnya zat besi membuat anda cepat lelah. Pilih makanan kaya zat besi, seperti sereal yang sudah terfortifikasi, roti gandum, kol, bayam, biji-bijian, dan coklat. Minum jus jeruk saat makan juga akan membantu tubuh mengoptimalkan kerja zat besi.

TRIMESTER 2

Bulan 4
Makan benar. Selera makan anda sudah tumbuh, seiring makin padamnya rasa mual. Untuk mengusir rasa malas makan, ingat-ingat saja bahwa anda makan untuk bayi anda. Perbanyak makan sayur buah dan makanan kaya karbohidrat- protein kalsium.
Minta dukungan. Pastikan anda memiliki lingkungan kantor yang suportif pada kehamilan anda: bebas rokok, tidak membuat anda stres, kelelahan berdiri sepanjang hari, mengangkat benda berat dan bersentuhan dengan bahan kimia.

Bulan 5
Ayo , exercise! Anda tampak berbahaya dengan perut hamil. Tak hanya cantik dan seksi, anda perlu bugar. Olah raga sangat bermanfaat untuk kelahiran yang mudah, dan manjur untuk mengusir efek samping kehamilan yang tak menyenangkan, seperti mengantuk dan perut kembung. Jatahkan 20 menit 3 kali seminggu untuk melakukan olah raga yang aman untuk perut: joging, berenang, pilates dan yoga.
Ke dokter gigi. Gigi berlubang dan masalah gigi dan gusi lainnya dapat jadi memicu preeklamsia dan kelahiran prematur. Kalau anda sudah membatalkan janjike dokter gigi pada trimester pertama, sekarang waktunya- wajib anda lakukan !

Bulan 6
Berlibur. Ini saatnya anda melakukan perjalanan berlibur bersama suami, sebelum bayi datang.waktu yang tepat adalah antara kehamilan minggu ke 14 dan ke-27. Tetap berhati- hati pada paparan sinar matahari. Lakukan berjalan-jalan di kabin setiap jam dan goyangkan ibu jari kaki agar terhindar dari bengkak.
Buang sakit punggung. Di saat perut membuncit, punggung sering terasa sakit. Usir dengan memijatnya perlahan, jangan berdiri atau duduk pada posisi yang sama dalam waktu lama atau berusaha meraih barang yang letaknya di atas kepala. Kompres dingin juga akan membantu menghilangkan nyeri punggung.

TRIMESTER 3

Bulan 7
Lebih cermat. Pada sekitar bulan ini, sakit serius yang berhubungan dengan kehamilan dapat terjadi. Memang sangat jarang dialami oleh ibu hamil, namun tak ada salahnya anda tetap rajin memeriksakan kehamilan. Cermati perubahan aneh seperti tangan dan kaki bengkak, gatal kronis, fatigue alias lelah luar biasa, dan nyeri di bawah perut.
Senam hamil. Daftarkan diri ikut senam pre-natal dan pelajari teknik pernapasan dan relaksasi untuk melahirkan.

Bulan 8
Tenang. Selama 24 jam, pasti ada jutaan pemikiran yang berkecamuk di kepala anda. Sekarang waktunya untuk relaks! Hasil riset menyebutkan, stres tinggi selama kehamilan dapat menyebabkan bayi lahir kecil. Luangkan waktu minimal20 menit sebagai’me time’.Baca majalah favorit anda, dengarkan lagu lewat MP3 player atau mandi berendam sepulang kantor.
Banyak makan ! Akhirnya …. anda boleh makan lebih banyak dengan menambah 200 kalori perhari dalam menu hidangan. Sama sekali tak berdosa untuk makan es krim, lho!

Bulan 9
Nikmati waktu tidur. Sebentar-sebentar ke toilet … tentu tak mudah ya, buat anda bila hampir setiap jam buang air seni ? Akan sangat membantu bila ibu hamil berhenti minum setelah pukul 8 malam, terutama teh,kopi atau kola, sehingga kandung kemih tidak penuh. Jalankan rutinitas tidur bantu dengan mendengarkan musik yang relaks atau mandi aromaterapi. Bila anda tak bisa tidur, jangan hanya berbaring cemas, lakukan sesuatu. Misalnya membaca atau melakukan teknik relaksasi ( yoga, menghitung kambing, atau…. membayangkan brad pitt !). suasana kamar yang tenang dan temaram juga akan sangat membantu. Atau coba gerakan ini: berbaring miring bertumpu pada badan sebelah kiri, tekuk lutut dan letakkan bantal di bawah perut.
Siap-siap! Minum teh rasa raspberry (dapat dibeli di supermarket besar) pada 8 minggu terakhir kehamilan anda akan membantu menguatkan rahim. Hindari perobekan rahim dengan memijat daerah perineum, daerah antara vagina dengan anus, dengan minyak zaitun. Dan yang terpenting, nikmati saat-saat akhir kehamilan anda. Sebentar lagi anda akan menjadi ibu!

Sabtu, 03 Juli 2010

Tanda dan Gejala Kehamilan Pasti dan Tidak Pasti

Mungkin sudah banyak dari rekan rekan blogger yang tahu apa itu hamil/mengandung, namun tidak sedikit pula yang tidak tahu atau kurang paham tentang tanda tanda kehamilan. Yang saya maksudkan dengan tanda tanda kehamilan disini yaitu apa apa saja yang dialami seorang wanita saat hamil atau menjelang akan hamil.

Untuk mengatakan seorang wanita itu hamil, maka perlu dilakukan kajian terlebih dahulu terhadap data subyektif dan obyektif yang ditemukan pada wanita tersebut. Data subyektif artinya segala sesuatu yang dirasakan atau dialami oleh wanita yang sedang hamil atau sering disebut dengan gejala kehamilan sedangkan data obyektif adalah segala hal yang bisa diamati oleh orang lain pada diri seorang wanita yang sedang hamil atau sering diistilahkan dengan tanda kehamilan. Tanda kehamilan sendiri dibagi lagi menjadi tanda kehamilan tidak pasti dan tanda kehamilan pasti.

Gejala Kehamilan Tidak Pasti :

* Tidak haid adalah gejala pertama yang dirasakan oleh seorang wanita yang menyadari kalau dirinya sedang hamil. Penting untuk dicatat tanggal hari pertama haid terakhir guna menentukan usia kehamilan dan memperkirakan tanggal kelahiran. Rumus sederhana menentukan tanggal kelahiran yaitu tanggal ditambah 7 sedangkan bulan dikurangi 3, dihitung dari tanggal pertama haid terakhir.
* Mual dengan diikuti muntah ataupun tidak sering terjadi pada bulan bulan pertama kehamilan.
* Mengidam atau menginginkan sesuatu baik itu makanan, minuman atau hal hal yang lain.
* Gangguan buang air besar karena pengaruh hormonal.
* Sering kencing terutama bila kehamilan sudah besar.
* Kadang kadang wanita hamil bisa pingsan di keramaian terutama pada bulan bulan awal kehamilan.
* Tidak ada nafsu makan, mungkin ada hubungannya dengan mual mual diatas.

Tanda Kehamilan Tidak Pasti :

* Perubahan warna kulit menjadi lebih gelap dari sebelumnya yang kira kira terjadi diatas minggu ke 12 kehamilan.
* Keputihan atau keluarnya cairan berlebihan dari vagina karena pengaruh hormonal.
* Gusi bengkak terutama pada bulan bulan pertama kehamilan.
* Perubahan payudara menjadi lebih tegang dan membesar.
* Pembesaran perut terutama tampak jelas setelah kehamilan 14 minggu.
* Tes kehamilan memberikan hasil positif.

Tanda Pasti Kehamilan :

* Pada perabaan di bagian perut dirasakan adanya janin serta gerak janin.
* Bila didengarkan menggunakan alat Doppler maka akan terdengar detak jantung janin.
* Pada pemeriksaan USG dilihat gambaran janin.
* Pada pemeriksaan rontgen terlihat gambaran rangka janin.

Barangkali rekan rekan masih bingung, mengapa disebut gejala atau tanda kehamilan tidak pasti, hal tersebut karena pada wanita yang mempunyai gejala atau tanda tanda kehamilan tidak pasti diatas masih ada kemungkinan mengalami kelainan lain yang memberikan gejala atau tanda yang sama. Misalnya pada wanita dengan pseudosiesis (wanita yang sangat menginginkan hamil) maka gejala gejala hamil diatas juga akan ia rasakan, walau sebenarnya wanita tersebut tidak hamil.

materi referensi:
blogdokter.net

Jumat, 02 Juli 2010

Sisi Lain dari Aborsi

Sampai detik ini aborsi masih dikatakan sebagai sebuah tindakan ilegal atas nama kehidupan. Aborsi sendiri merupakan suatu proses penghentian kehamilan yang dilakukan dengan berbagai alasan. Entah itu alasan medis maupun non medis tetap saja aborsi menimbulkan bekas atau noda di benak ibu hamil. Perasaan bersalah akan selalu menghantuinya dan sulit sekali untuk melupakannya.

Pilihan untuk melakukan aborsi mungkin menjadi pilihan yang sangat sulit dilakukan selama hidup tetapi yang namanya pilihan tetap saja harus memilih antara melakukan dan tidak. Dengan berbagai upaya yang salah satunya adalah memahami dengan baik prosedur aborsi akan membuat ibu hamil menjadi lebih tenang dan siap menghadapi prosedur tindakan aborsi.

Dokter harus melakukan konseling atau tanya jawab dengan sangat baik terhadap pasien aborsi. Harus dijelaskan pilihan pilihan dan alasan yang menyebabkan tindakan tersebut dilakukan. Prosedur tindakan juga harus dijelaskan dengan detail termasuk anjuran untuk makan dan minum pada malam hari sebelum tindakan dilakukan. Pasien juga harus dilarang untuk menggunakan obat obat yang biasa dikonsumsi 2 hari sebelum tindakan termasuk konsumsi alkohol.

Selanjutnya dijelaskan pula tahap tahap tindakan yang akan dilakukan mulai dari proses pembiusan, pembersihan daerah operasi sampai dengan proses penyedotan janin di dalam kandungan. Begitu pula dengan hal hal yang harus dilakukan pasca tindakan berikut pantangan pantangannya.

Dengan penjelasan yang mendetail diharapkan pasien yang dalam hal ini ibu hamil dapat memahami tindakan yang dilakukan dan perasaan bersalah dan berdosa dapat di minimalisir.

referensi:
blogdokter.net

Tanda dan Gejala Kehamilan Pasti dan Tidak Pasti

Mungkin sudah banyak dari rekan rekan blogger yang tahu apa itu hamil/mengandung, namun tidak sedikit pula yang tidak tahu atau kurang paham tentang tanda tanda kehamilan. Yang saya maksudkan dengan tanda tanda kehamilan disini yaitu apa apa saja yang dialami seorang wanita saat hamil atau menjelang akan hamil.

Untuk mengatakan seorang wanita itu hamil, maka perlu dilakukan kajian terlebih dahulu terhadap data subyektif dan obyektif yang ditemukan pada wanita tersebut. Data subyektif artinya segala sesuatu yang dirasakan atau dialami oleh wanita yang sedang hamil atau sering disebut dengan gejala kehamilan sedangkan data obyektif adalah segala hal yang bisa diamati oleh orang lain pada diri seorang wanita yang sedang hamil atau sering diistilahkan dengan tanda kehamilan. Tanda kehamilan sendiri dibagi lagi menjadi tanda kehamilan tidak pasti dan tanda kehamilan pasti.

Gejala Kehamilan Tidak Pasti :

* Tidak haid adalah gejala pertama yang dirasakan oleh seorang wanita yang menyadari kalau dirinya sedang hamil. Penting untuk dicatat tanggal hari pertama haid terakhir guna menentukan usia kehamilan dan memperkirakan tanggal kelahiran. Rumus sederhana menentukan tanggal kelahiran yaitu tanggal ditambah 7 sedangkan bulan dikurangi 3, dihitung dari tanggal pertama haid terakhir.
* Mual dengan diikuti muntah ataupun tidak sering terjadi pada bulan bulan pertama kehamilan.
* Mengidam atau menginginkan sesuatu baik itu makanan, minuman atau hal hal yang lain.
* Gangguan buang air besar karena pengaruh hormonal.
* Sering kencing terutama bila kehamilan sudah besar.
* Kadang kadang wanita hamil bisa pingsan di keramaian terutama pada bulan bulan awal kehamilan.
* Tidak ada nafsu makan, mungkin ada hubungannya dengan mual mual diatas.

Tanda Kehamilan Tidak Pasti :

* Perubahan warna kulit menjadi lebih gelap dari sebelumnya yang kira kira terjadi diatas minggu ke 12 kehamilan.
* Keputihan atau keluarnya cairan berlebihan dari vagina karena pengaruh hormonal.
* Gusi bengkak terutama pada bulan bulan pertama kehamilan.
* Perubahan payudara menjadi lebih tegang dan membesar.
* Pembesaran perut terutama tampak jelas setelah kehamilan 14 minggu.
* Tes kehamilan memberikan hasil positif.

Tanda Pasti Kehamilan :

* Pada perabaan di bagian perut dirasakan adanya janin serta gerak janin.
* Bila didengarkan menggunakan alat Doppler maka akan terdengar detak jantung janin.
* Pada pemeriksaan USG dilihat gambaran janin.
* Pada pemeriksaan rontgen terlihat gambaran rangka janin.

Barangkali rekan rekan masih bingung, mengapa disebut gejala atau tanda kehamilan tidak pasti, hal tersebut karena pada wanita yang mempunyai gejala atau tanda tanda kehamilan tidak pasti diatas masih ada kemungkinan mengalami kelainan lain yang memberikan gejala atau tanda yang sama. Misalnya pada wanita dengan pseudosiesis (wanita yang sangat menginginkan hamil) maka gejala gejala hamil diatas juga akan ia rasakan, walau sebenarnya wanita tersebut tidak hamil.

materi referensi:
blogdokter.net

Tanda dan Gejala Kehamilan

Kehamilan tidak melulu ditandai oleh terlambatnya haid atau makin “gendutnya” perut. Masih ada tanda-tanda lainnya, lho .

Memang tidak mudah mengetahui apakah Anda benar-benar hamil atau tidak. Selain dengan berbagai tes kehamilan, bisa dilengkapi kepastiannya dengan berbagai perubahan fisik berikut.

Bercak merah jambu
- Umumnya terjadi sekitar 8-10 hari setelah ovulasi (keluarnya sel telur dari indung telur). Terjadi karena benih tertanam (implantasi) di lapisan uterus (rahim).
- Tidak seperti haid, bercak ini biasanya sedikit. Datangnya pun lebih awal ketimbang jadwal haid Anda.

Payudara berubah
- Payudara dan puting jadi lebih lembut sekitar tiga minggu setelah pembuahan terjadi (ketika haid terlambat sekitar seminggu).
- Kadang-kadang payudara terasa membengkak, mirip yang Anda rasakan menjelang haid. Membesarnya payudara ini karena kelenjar-kelenjar air susu membesar dan “menabung” lemak sebagai persiapan menyusui.
- Puting payudara dan daerah sekitarnya berwarna lebih gelap.

Kram perut
- Sering juga terasa pada awal kehamilan, serta akan terus berlangsung sampai letak uterus mapan di tengah dan disangga dengan baik oleh tulang panggul (pada trimester ke-2).
- Kontraksi rahim sering terjadi secara teratur, seiring dengan meningkatnya olahraga yang Anda lakukan selama hamil, orgasme yang terjadi ketika berhubungan intim, atau karena perubahan posisi dari tidur ke berdiri.

Sering buang air kecil
- Begitu haid terlambat 1-2 minggu, biasanya ada dorongan untuk buang air kecil. Hal ini terjadi karena meningkatnya sirkulasi darah ketika hamil dan tekanan pada saluran kemih akibat membesarnya uterus.
- Jangan batasi asupan cairan. Biarpun sering ke belakang, Anda harus tetap banyak minum agar tidak mengalami dehidrasi (kekurangan cairan tubuh).

Sembelit
- Ekstra hormon yang terbentuk selama kehamilan akan menyebabkan usus lebih relaks bekerja, namun kurang efisien, sehingga dorongan untuk mengeluarkan sisa kotoran pun agak terhambat.

“Ngidam” atau “ngemil”
- Sejak awal kehamilan, dorongan untuk ngemil atau makan makanan tertentu (ngidam) sering muncul pada orang tertentu.
- Kebutuhan untuk ngemil mungkin saja muncul karena kebutuhan tubuh untuk makan sedikit demi sedikit namun sering.

Mual dan muntah
- Tanda-tanda ini lazim disebut morning sickness. Padahal, kondisi yang dirasakan oleh sekitar 50% ibu hamil ini, bisa muncul kapan saja, bukan cuma di pagi hari.
- Bisa terpicu hanya karena mencium bau makanan atau parfum tertentu (yang pada kondisi normal tidak membuat mual). Hal ini terjadi karena perubahan hormon dalam tubuh.
- Biasanya, hanya berlangsung selama 3 bulan pertama kehamilan, dan berhenti begitu masuk bulan ke-4.

Meningkatnya suhu tubuh
- Terjadi seminggu setelah pembuahan, ketika hasil pembuahan “bersemayam” di rahim.
materi referensi:
dari ayah bunda online

Kamis, 01 Januari 2009

Mengenang KARTINI


Kartini berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya. Namun cahaya itu belum sempurna menyinarinya secara terang benderang, karena terhalang oleh tabir tradisi dan usaha westernisasi. Kartini telah kembali kepada Pemiliknya, sebelum ia menuntaskan usahanya untuk mempelajari Islam dan mengamalkannya, seperti yang diidam-idamkannya: Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai. [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]

1. Mukadimah


Tinta sejarah belum lagi kering menulis namanya, namun wanita-wanita negerinya sudah terbata-bata membaca cita-citanya. Kian hari emansipasi kian mirip saja dengan liberalisasi dan feminisasi. Sementara Kartini sendiri sesungguhnya semakin meninggalkan semuanya, dan ingin kembali kepada fitrahnya.

Perjalanan Kartini adalah perjalanan panjang. Dan dia belum sampai pada tujuannya. Kartini masih dalam proses. Jangan salahkan Kartini kalau dia tidak sepenuhnya dapat lepas dari kungkungan adatnya. Jangan salahkan Kartini kalau dia tidak dapat lepas dari pengaruh pendidikan Baratnya. Kartini bukan anak keadaan, terbukti bahwa dia sudah berusaha untuk mendobraknya. Yang kita salahkan adalah mereka yang menyalahartikan kemauan Kartini. Kartini tidak dapat diartikan lain kecuali sesuai dengan apa yang tersirat dalam kumpulan suratnya : "Door Duisternis Tot Licht", yang terlanjur diartikan sebagai "Habis Gelap Terbitlah Terang". Prof. Haryati Soebadio (cucu tiri Ibu Kartini) - mengartikan kalimat "Door Duisternis Tot Licht" sebagai "Dari Gelap Menuju Cahaya" yang bahasa Arabnya adalah "Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur". Kata dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya: membawa manusia dari kegelapan (jahiliyyah atau kebodohan hidayah) ke tempat yang terang benderang (petunjuk atau kebenaran). Di dalam Al-Quran, surat Al-Baqarah : 257, ALLah menegaskan:

ALLAH pemimpin orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pemimpinnya adalah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya ke kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal didalamnya.

Kartini berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya. Namun cahaya itu belum sempurna menyinarinya secara terang benderang, karena terhalang oleh tabir tradisi dan usaha westernisasi. Kartini telah kembali kepada Pemiliknya, sebelum ia menuntaskan usahanya untuk mempelajari Islam dan mengamalkannya, seperti yang diidam-idamkannya:

Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai. [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]

Kartini yang dikungkung oleh adat dan dituntun oleh Barat, telah mencoba meretas jalan menuju benderang. Tapi anehnya tak seorangpun melanjutkan perjuangannya. Wanita-wanita kini mengurai kembali benang yang telah dipintal Kartini. Sungguhpun mereka merayakan hari lahirnya, namun mereka mengecilkan arti perjuangannya. Gagasan-gagasan cemerlang Kartini yang dirumuskan dalam kamar yang sepi, mereka peringati di atas panggung yang bingar. Kecaman Kartini yang teramat pedas terhadap Barat, mereka artikan sebagai isyarat untuk mengikuti wanita-wanita Barat habis-habisan. Kartini merupakan salah satu contoh figur sejarah yang lelah menghadapi pertarungan ideologi. Jangan kecam Kartini. Karena walau bagaimana pun, beliau telah berusaha mendobrak adat, mengelak dari Barat, untuk mengubah keadaan.

Manusia itu berusaha, ALLAH lah yang menentukan. [Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, Oktober 1900]

Demikian kata-kata Kartini yang mencerminkan suatu sikapnya yang tawakkal. Memang, kita manusia sebaiknya berorientasi kepada usaha dan bukan berorientasi pada hasil. Hal ini perlu, agar kita tidak kehilangan cakrawala. Agar kita tidak mengukur keberhasilan suatu perjuangan dengan batasan usia kita yang singkat. Pula agar kita tidak mudah untuk mengecam kesalahan yang dibuat oleh orang-orang sebelum kita. Bukan mustahil, jika kita dihadapkan dalam kondisi yang sama, kita pun akan berbuat hal yang serupa.

Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan dimintai pertanggung jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan. [Al-Quran, surat Al-Baqarah : 134]

2. Siapakah Kartini?


Kartini lahir dari keluarga ningrat jawa. Ayahnya, R.M.A.A Sosroningrat, pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Teluwakur, Jepara. Peraturan Kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan : R.A.A. Tjitrowikromo. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Beliau adalah keturunan keluarga yang cerdas. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang jenius dalam bidang bahasa. Dalam waktu singkat pendidikannya di Belanda, ia menguasai 26 bahasa: 17 bahasa-bahasa Timur dan 9 bahasa-bahasa Barat. Kartini sendiri secara formal pendidikannya hanya sampai pada tingkat Sekolah Rendah. Tapi beliau dapat memberikan kritik dan saran yang jelas kepada kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu. Dengan nota yang berjudul: "Berilah Pendidikan kepada bangsa Jawa", Kartini mengajukan kritik dan saran kepada hampir semua Departemen Pemerintah Hindia Belanda, kecuali Departemen Angkatan Laut (Marine). Salah satu saran yang beliau ajukan kepada Departemen Kesehatan adalah sebagai berikut:

Para dokter hendaklah juga diberi kesempatan untuk melengkapi pengetahuannya di Eropa. Keuntungannya sangat menyolok, terutama jika diperlukan penyelidikan yang menghendaki hubungan langsung dengan masyarakat. Mereka dapat menyelidiki secara mendalam khasiat obat-obatan pribumi yang sudah sering terbukti mujarab. Jikalau seorang awam menceritakan bahwa darah cacing atau belut dapat menyembuhkan mata yang bengkak, mungkin ia akan ditertawakan. Namun adalah suatu kenyataan bahwa air kelapa dan pisang batu dapat dipakai sebagai obat. Soalnya, sebetulnya sangat sederhana : penyakit-penyakit dalam negeri sebaiknya diobati dengan obat-obatan dari negeri itu sendiri. Telah seringkali terjadi bahwa orang-orang sakit bangsa Eropa, teristimewa yang menderita penyakit disentri atau penyakit lain, yang oleh dokter-dokter sudah dinyatakan tak dapat disembuhkan, masih dapat ditolong oleh obat-obatan kita yang sederhana dan tidak membahayakan. Sebagai contoh, belum lama berselang, seorang gadis pribumi oleh seorang dokter dinyatakan menderita penyakit TBC kerongkongan. Dokter itu mengatakan bahwa ia hanya dapat bertahan 2 pekan dan akan meninggal dalam keadaan yang mengerikan. Dalam keadaan putus asa, ibunya membawanya kembali ke desanya untuk diobati. Dan gadis itu sembuh, menjadi sehat, tidak merasa sakit lagi dan dapat bicara kembali. Apa obatnya? Serangga-serangga kecil yang didapat di sawah, ditelan hidup-hidup dengan pisang emas. Pengobatan yang biadab? Apa boleh buat. Bagaimanapun obat itu menolong, sedang obat dokter tidak. Dokter-dokter kita, sebenarnya dapat mengumumkan kasus-kasus seperti itu, tetapi mereka tidak pernah melakukan hal demikian. Mungkin karena khawatir akan ditertawakan oleh para sarjana? Seorang dokter bumiputera yang pengetahuannya setaraf dengan rekannya bangsa Eropa, jika yakin akan sesuatu, mestinya harus berani menyatakan dan mempertahankan keyakinannya.

Dengan membaca petikan nota Kartini yang ditujukan kapada pemerintah Hindia Belanda tersebut, kita dapat memperkirakan daya nalar Kartini untuk ukuran jamannya.

3. Kartini Mendobrak Adat


Sesungguhnya adat sopan-santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku harus merangkak bila hendak lalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh berkamu dan berengkau kepadaku. Mereka hanya boleh menegur aku dalam bahasa kromo inggil (bahasa Jawa tingkat tinggi). Tiap kalimat yang diucapkan haruslah diakhiri dengan sembah.

Berdiri bulu kuduk bila kita berada dalam lingkungan keluarga bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya, harus perlahan-lahan, sehingga orang yang didekatnya sajalah yang dapat mendengar. Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila berjalan agak cepat, dicaci orang, disebut "kuda liar". [Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899]

Peduli apa aku dengan segala tata cara itu ... Segala peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu ... Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas-batas mana cara liberal itu boleh dijalankan. [Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899]

Menurut Kartini, setiap manusia sederajat dan mereka berhak untuk mendapat perlakuan sama. Kartini paham benar bahwa saat itu, terutama di Jawa, keningratan seseorang diukur dengan darah. Semakin biru darah seseorang maka akan semakin ningrat kedudukannya. Kartini menentang keningratan darah.

Bagi saya hanya ada dua macam keningratan : keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang, yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal soleh, orang yang bergelar Graaf atau Baron? Tidak dapat mengerti oleh pikiranku yang picik ini. [Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899]

Keningratan darah sekarang ini hanya tinggal sebagai barang antik di museum. Sebagai gantinya sekarang muncul keningratan-keningratan baru: keningratan pangkat, keningratan jabatan dan semacamnya. Puncak dari segala keningratan itu adalah keningratan ekonomi. Siapa yang paling banyak menyimpan harta, dialah yang paling ningrat. Semua dapat diatur olehnya. Keputusan dan kebijaksanaan semua orang akan berjalan erunduk-runduk di hadapan keputusan dan kebijaksanaan orang tersebut. Anehnya lagi, mereka yang mengaku sebagai Kartini-Kartini Masa Kini, tidak menentang keningratan-keningratan baru tersebut. Bahkan sebagian besar mereka menjadi korbannya, kalau tidak boleh dikatakan sebagai abdinya yang setia.

4. Kartini Memandang Ke Barat


Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik; orang baik-baik itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi lagi, dan mereka itu meniru yang tertinggi pula ialah orang Eropa. [Surat Kartini kepada Stella, 25 Mei 1899]

Diskriminasi yang dilakukan penjajah Belanda terhadap bumiputera, telah menjatuhkan moral mereka. Kartini meskipun berasal dari kaum ningrat, tapi pendidikan Barat yang dikenyamnya telah mengajarkan kepadanya bahwa Timur itu rendah dan Barat itu mulia. Kartini bukannya tidak menyadari indoktrinasi ini, tapi kenyataan yang dilihatnya belum lagi dapat dibantah. Dalam dunia pendidikan misalnya, Kartini melihat perbedaan yang menyolok, antara apa yang dimiliki oleh Belanda dengan apa yang baru dapat dicapai oleh Bumiputera.

Bolehlah, negeri Belanda merasa berbahagia, memiliki tenaga-tenaga ahli, yang amat bersungguh mencurahkan seluruh akal dan pikiran dalam bidang pendidikan dan pengajaran remaja-remaja Belanda. Dalam hal ini anak-anak Belanda lebih beruntung dari pada anak-anak Jawa, yang telah memiliki buku selain buku pelajaran sekolah. [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 20 Agustus 1902]

Dari sini nampak bahwa Kartini menyadari pentingnya peranan buku dalam mencerdaskan kehidupan anak manusia. Kalau masa kini, kebudayaan membaca terkalahkan oleh kebudayaan video, apakah jawabnya adalah Kartini masa kini sudah lebih maju dalam hal mendidik anak-anak mereka?

Aku mau meneruskan pendidikanku ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah kupilih. [Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 1900]

Agar setaraf dengan Barat, Kartini merasa perlu untuk mengejar ilmu ke Barat. Barat adalah kiblat Kartini setelah melepaskan diri dari kungkungan adat.

Pergilah ke Eropa. Itulah cita-citaku sampai nafasku yang terakhir. Surat Kartini kepada Stella [12 Januari 1900]

5. Sahabat-sahabat Dekat Kartini


Adat pada dewasa itu tidak memperkenankan seorang ningrat bergaul lekat dengan rakyat biasa. Ningrat harus bergaul dengan ningrat. Hal seperti ini sengaja dilestarikan oleh pemerintah kolonial, agar para ningrat kehilangan kepekaan terhadap problematika rakyatnya, menghindari keterpihakan ningrat kepada rakyat yang tertindas; sekaligus pula memperbesar jarak agar antara ningrat dan rakyat tidak tergalang suatu kekuatan untuk melawan penguasa. Dalam situasi demikian, dapat dipahami bila pergaulan Kartini hanya terbatas pada lingkungan keluarganya dan orang-orang Belanda saja. Pergaulan dengan orang-orang Belanda, tidaklah dilarang, karena orang Belanda dianggap lebih ningrat daripada orang Jawa. Kartini adalah seorang wanita yang mempunyai pemikiran jauh ke depan. Hal ini sudah diamati dan diketahui oleh teman-temannya bangsa Belanda. Banyak orang Belanda di Hindia Belanda maupun di negeri Belanda sendiri ingin menjalin persahabatan dengan Kartini, namun pada umumnya sebenarnya mereka ini adalah "musuh-musuh dalam selimut" yang ingin memperalat Kartini dan memandulkan pikiran-pikirannya. Berikut ini adalah beberapa teman dekat Kartini, yang sering terlibat diskusi maupun korespondensi dengannya :

- J.H. Abendanon
Abendanon datang ke Hindia-Belanda pada tahun 1900. Ia ditugaskan oleh Nederland untuk melaksanakan Politik Etis. Tugasnya adalah sebagai Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan. Karena 'orang baru' di Hindia-Belanda, Abendanon tidak mengetahui keadaan masyarakat Hindia-Belanda dan tidak paham bagaimana dan dari mana ia memulai programnya. Untuk keperluan itu, Abendanon banyak meminta nasihat dari teman sehaluan politiknya, Snouck Hurgronye, seorang orientalis yang terkenal sebagai arsitek perancang kemenangan Hindia-Belanda dalam Perang Aceh. Lebih jauh, Hurgronye mempunyai konsepsi yang disebut sebagai Politik Asosiasi, yaitu suatu usaha agar generasi muda Islam mengidentifikasikan dirinya dengan Barat. Menurut keyakinannya, golongan yang paling keras menentang penjajah Belanda adalah golongan Islam, terutama golongan santrinya. Memasukkan peradaban Barat dalam masyarakat pribumi adalah cara yang paling jitu untuk membendung dan akhirnya mengatasi pengaruh Islam di Hindia Belanda. Tidak mungkin membaratkan rakyat bumiputera, kecuali jika ningratnya telah dibaratkan. Untuk tujuan itu, maka langkah pertama yang harus diambil adalah mendekati kalangan ningrat terutama yang Islamnya teguh, untuk kemudian dibaratkan. Hurgronye menyarankan Abendanon untuk mendekati Kartini, dan untuk tujuan itulah Abendanon membina hubungan baik dengan Kartini. Kelak, Abendanonlah yang paling gigih berusaha menghalangi Kartini belajar ke Nederland. Ia tidak ingin Kartini lebih maju lagi.

- E.E. Abendanon (Ny. Abendanon)
Dia adalah pendamping setia suaminya dalam menjalankan tugasnya mendekati Kartini. Sampai menjelang akhir hayatnya, Kartini masih membina hubungan korespondensi dengannya.

- Dr. Adriani
Keluarga Abendanon pernah mengundang keluarga Kartini ke Batavia. Di Batavia inilah, Ny. Abendanon memperkenalkan Kartini dengan Dr. Adriani. Ia seorang ahli bahasa serta pendeta yang bertugas menyebarkan kristen di Toraja, Sulawesi Selatan. Dr Adriani berada di Batavia dalam rangka perlawatannya keliling Jawa dan Sumatera. Untuk selanjutnya, Dr. Adriani menjadi teman korespondensi Kartini yang intim.

- Annie Glasser
Ia adalah seorang guru yang memiliki beberapa akta pengajaran bahasa. Ia mengajarkan bahasa Perancis secara privat kepada Kartini tanpa memungut bayaran. Glasser diminta oleh Abendanon ke Kabupaten Jepara untuk mengamati dan mengikuti perkembangan pemikiran Kartini. Tidak mengherankan jika kelak Abendanon dapat mematahkan rencana Kartini untuk berangkat belajar ke Nederland, dengan mempergunakan diplomasi psikologis tingkat tinggi. Semua pihak telah gagal dalam segala upaya untuk menghalangi kepergian Kartini ke Belanda. Kartini telah berbulat tekad untuk ke Belanda. Tapi, tiba-tiba, Abendanon datang langsung dari Batavia ke Jepara untuk menemui Kartini tanpa perantaraan surat. Abendanon hanya berbicara beberapa menit saja dengan Kartini. Hasilnya? Kartini memutuskan untuk membatalkan keberangkatannya ke Belanda. Hal ini hanya mungkin jika Abandanon mengetahui secara persis kondisi psikologis Kartini; dan hal ini mudah baginya karena ia menempatkan Annie Glasser sebagai "mata-mata"nya.

- Stella (Estelle Zeehandelaar)
Sewaktu dalam pingitan (lebih kurang 4 tahun), Kartini banyak menghabiskan waktunya untuk membaca. Kartini tidak puas hanya mengikuti perkembangan pergerakan wanita di Eropa melalui buku dan majalah saja. Beliau ingin mengetahui keadaan yang sesungguhnya. Untuk itulah, beliau kemudian memasang iklan di sebuah majalah yang terbit di Belanda : "Hollandsche Lelie". Melalui iklan itu, Kartini menawarkan diri sebagai sahabat pena untuk wanita Eropa. Dengan segera iklan Kartini tersebut disambut oleh Stella, seorang wanita Yahudi Belanda. Stella adalah anggota militan pergerakan feminis di negeri Belanda saat itu. Ia bersahabat dengan tokoh sosialis; Ir. Van Kol, wakil ketua SDAQ (Partai Sosialis Belanda) di Tweede Kamer (Parlemen).

- Ir. Van Kol
Sebelum berkenalan dengan Kartini, Van Kol pernah tinggal di Hindia Belanda selama 16 tahun. Selain sebagai seorang insinyur, ia juga seorang ahli dalam masalah-masalah kolonial. Stella-lah yang selalu memberi informasi tentang Kartini kepadanya, sampai pada akhirnya ia berkesempatan datang ke Jepara dan berkenalan langsung dengan Kartini. Van Kol mendukung dan memperjuangkan kepergian Kartini ke negeri Belanda atas biaya Pemerintah Belanda. Namun, rupanya ada udang dibalik batu. Van Kol berharap dapat menjadikan Kartini sebagai "saksi hidup" kebobrokan pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Semua ini untuk memenuhi ambisinya dalam memenangkan partainya (sosialis) di Parlemen.

- Nellie Van Kol (Ny. Van Kol)
Ia adalah seorang penulis yang mempunyai pendirian humanis dan progresif. Dialah orang yang paling berperan dalam mendangkalkan aqidah Kartini. Pada awalnya, ia bermaksud untuk mengkristenkan Kartini, dengan kedatangannya seolah-olah sebagai penolong yang mengangkat Kartini dari ketidakpedulian terhadap agama. Memang, agaknya setelah perkenalannya dengan Ny. Van Kol, Kartini mulai perduli dengan agamanya, Islam. Kepeduliannya ditandai dengan diakhiri gerakan "mogok shalat" dan "mogok ngaji".

Sekarang kami merasakan badan kami lebih kokoh, segala sesuatu tampak lain sekarang. Sudah lama cahaya itu tumbuh dalam hati sanubari kami; kami belum tahu waktu itu, dan Nyonya Van Kol yang menyibak tabir yang tergantung di hadapan kami. Kami sangat berterima kasih kepadanya. [Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 12 Juni 1902]

Setelah Kartini kembali menaruh perhatian pada masalah-masalah agama, mulailah Nellie Van Kol melancarkan misi kristennya.

Nyonya Van Kol banyak menceritakan kepada kami tentang Yesus yang tuan muliakan itu, tentang rasul-rasul Petrus dan Paulus, dan kami senang mendengar semua itu [Surat Kartini kepada Dr. Adriani, 5 Juli 1902]

Nyonya van Kol gagal untuk mengkristenkan Kartini secara formal, tapi ia berhasil untuk memasukkan nilai kristen ke dalam keislaman Kartini. Dalam banyak suratnya Kartini menyebut ALLAH dalam konsep trinitas.

Malaikat yang baik beterbangan di sekeliling saya dan Bapak yang ada di langit membantu saya dalam perjuangan saya dengan bapakku yang ada di dunia ini. [Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 12 Juli 1902]

6. Kartini Ingin Menjadi Muslimah Sejati


Pada masa kecilnya, Kartini mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan ketika belajar mengaji (membaca Al-Quran). Ibu guru mengajinya memarahi beliau ketika Kartini menanyakan makna dari kata-kata Al-Quran yang diajarkan kepadanya untuk membacanya. Sejak saat itu timbullah penolakan pada diri Kartini.

"Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?" [Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899]

"Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya. [Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 15 Agustus 1902]

Sampai suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati di Demak (Pangeran Ario Hadiningrat). Di Demak waktu itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian tersebut bersama para raden ayu yang lain, dari balik tabir. Kartini tertarik pada materi pengajian yang disampaikan Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang, yaitu tentang tafsir Al-Fatihah. Kyai Sholeh Darat ini - demikian ia dikenal - sering memberikan pengajian di berbagai kabupaten di sepanjang pesisir utara. Setelah selesai acara pengajian Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemani dia untuk menemui Kyai Sholeh Darat. Inilah dialog antara Kartini dan Kyai Sholeh Darat, yang ditulis oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat :

"Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?"
Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis itu.
"Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?". Kyai Sholeh Darat balik bertanya, sambil berpikir kalau saja apa yang dimaksud oleh pertanyaan Kartini pernah terlintas dalam pikirannya.
"Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?"

Setelah pertemuannya dengan Kartini, Kyai Sholeh Darat tergugah untuk menterjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Pada hari pernikahan Kartini, Kyai Sholeh Darat menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran), jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Tapi sayang tidak lama setelah itu Kyai Sholeh Darat meninggal dunia, sehingga Al-Quran tersebut belum selesai diterjemahkan seluruhnya ke dalam bahasa Jawa. Kalau saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (Al-Quran) maka tidak mustahil ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua hal yang dituntut Islam terhadap muslimahnya. Terbukti Kartini sangat berani untuk berbeda dengan tradisi adatnya yang sudah terlanjur mapan. Kartini juga memiliki modal kehanifan yang tinggi terhadap ajaran Islam. Bukankah pada mulanya beliau paling keras menentang poligami, tapi kemudian setelah mengenal Islam, beliau dapat menerimanya. Saat mempelajari Al-Islam lewat Al-Quran terjemahan berbahasa Jawa itu, Kartini menemukan dalam surat Al-Baqarah ayat 257 bahwa ALAH-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minazh-Zhulumaati ilan Nuur). Rupanya, Kartini terkesan dengan kata-kata Minazh-Zhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya. Karena Kartini merasakan sendiri proses perubahan dirinya, dari pemikiran tak-berketentuan kepada pemikiran hidayah. Dalam banyak suratnya sebelum wafat, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat "Dari Gelap Kepada Cahaya" ini. Karena Kartini selalu menulis suratnya dalam bahasa Belanda, maka kata-kata ini dia terjemahkan dengan "Door Duisternis Tot Licht". Karena seringnya kata-kata tersebut muncul dalam surat-surat Kartini, maka Mr. Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini menjadikan kata-kata tersebut sebagai judul dari kumpulan surat Kartini. Tentu saja ia tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut sebenarnya dipetik dari Al-Quran. Kemudian untuk masa-masa selanjutnya setelah Kartini meninggal, kata-kata Door Duisternis Tot Licht telah kehilangan maknanya, karena diterjemahkan oleh Armijn Pane dengan istilah "Habis Gelap Terbitlah Terang". Memang lebih puitis, tapi justru tidak persis.

Setelah Kartini mengenal Islam sikapnya terhadap Barat mulai berubah :
"Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?" [Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902]

Kartini juga menentang semua praktek kristenisasi di Hindia Belanda :

"Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka kristenisasi? .... Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri untuk memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?" [Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 31 Januari 1903]

Bahkan Kartini bertekad untuk memenuhi panggilan surat Al-Baqarah ayat 193, berupaya untuk memperbaiki citra Islam selalu dijadikan bulan-bulanan dan sasaran fitnah. Dengan bahasa halus Kartini menyatakan :

"Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai." [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]

7. Cita-cita Kartini Yang Sering Disalahartikan.


Kartini merasa bahwa hati kecilnya selalu mengatakan :

"Pergilah. Laksanakan cita-citamu. Kerjalah untuk hari depan. Kerjalah untuk kebahagiaan beribu-ibu orang yang tertindas dibawah hukum yang tidak adil dan paham-paham yang palsu tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Pergi. Pergilah. Berjuanglah dan menderitalah, tetapi bekerjalah untuk kepentingan yang abadi" [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]

Petikan suratnya berikut ini adalah cita-cita Kartini yang banyak salah dimengerti :

"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]

Inilah gagasan Kartini yang sebenarnya, namun kenyataannya sering diartikan secara sempit dengan satu kata: emansipasi. Sehingga setiap orang bebas mengartikan semaunya sendiri.

8. Pelajaran Bagi Umat Islam


Pada dasarnya Kartini ingin berjuang di jalan Islam. Tapi karena pemahamannya tentang Islam belum menyeluruh, maka Kartini tidak mengetahui panjangnya jalan yang akan ditempuh dan bagaimana cara berjalan diatasnya. (Mudah-mudahan Allah merahmati Kartini, beliau sudah berusaha, tapi ALLAH terlebih dahulu memanggilnya). Apabila kita mempelajari lebih jauh konsep-konsep yang diajukan Kartini, meskipun secara global adalah konsep Islam, tapi secara terperinci dan operasional, rancu dengan konsep-konsep Barat. Kita tahu sebagian besar teman-teman dekat Kartini adalah Yahudi dan Nasrani. Allah sudah memperingatkan kepada kita : Tidak akan pernah ridho orang-orang Yahudi dan Nasrani, sebelum kamu mengikuti tata cara mereka (Al-Quran, 2:120). Apa yang dialami Kartini merupakan sejarah yang senantiasa selalu terulangi. Setiap seseorang akan memperjuangkan Islam, maka tiba-tiba pihak-pihak yang tidak menyukai Islam akan bersatu untuk menghancurkannya. Bila posisi mereka lemah, maka mereka akan menempuhnya dengan cara yang halus dan tersembunyi. Tapi jika posisi mereka kuat, maka mereka akan menempuh cara-cara paksa. Secara tidak sadar Kartini menceritakan praktek keburukan umat Islam (bukan Islam yang buruk) kepada sahabat-sahabatnya non-Islam. Sehingga kelak kemudian hari menjadi bumerang dan fitnah bagi umat Islam. Sebaik-baiknya sahabat non-Islam, walau bagaimanapun tidak akan membantu Islam (Al-Quran, 3:119-120). Kartini berjuang seorang diri dan tidak menghimpun para santri lain yang ada di pulau Jawa. Salah seorang sahabat RasuluLLah, Ali bin Abi Thalib RA pernah berpesan kepada kita bahwa: Kebenaran yang tidak terorganisir dapat dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir. Dan Allah pun mencintai orang-orang yang berjuang di jalanNya dalam suatu barisan (Al-Quran, 61:4).


Wallahu'alam bissawab.

GENDER

BAB 20

GENDER DAN KAJIAN TENTANG PEREMPUAN

Salah satu isu penting yang muncul menjelang berahirnya abad ke-20 adalah persoalan gender. Isu tentng gender ini telah menjadi bahasan yang memasuki setiap analisis sosial, menjadi pokok bahasan dalam wacana perdebatan mengenai perubahan social dan juga menjadi topik utama dalam perbincangan mengenai pembangunan dan perubahan sosial.

Bahkan beberapa waktu terakhir ini, berbagai tulisan baik di media massa maupun buku-buku, atau kegiatan-kegiatan seperti seminar, diskusi dan sebagainya banyak membahas tentang protes dan gugatan yang terkait dengan ketidakadilan dan diskriminasi terhadap kaum perempuan. Ketidakadilan dan diskriminasi tersebut terjadi di hampir semua tingkatan dan sektor, mulai dari tingkat internasional, negara, keagamaan, sosial (kemasyarakatan), budaya, ekonomi, sampai pada tingkat rumah tangga. Apa sebenarnya pengertian gender?

1. Perbedaan Seks dan Gender

Istilah gender pada awalnya dikembangkan sebagai suatu analisis ilmu sosial oleh Ann Oakley (1972, dalam Fakih, 1997), dan sejak saat itu menurutnya gender lantas dianggap sebagai alat analisis yang baik untuk memahami persoalan dikriminasi terhadap kaum perempuan secara umum.

Gender berbeda dengan jenis kelamin (seks). Seks adalah pembagian jenis kelamin yang ditentukan secara biologis dan melekat pada jenis kelamin tertentu. Oleh karena itu konsep jenis kelamin (seks) digunakan untuk membedakan laki-laki dan perempuan berdasarkan unsur biologis dan anatomi tubuh (Tuttle, Lisa, Encyclopedia of Feminism, 1986). Misalnya, laki-laki memiliki penis, testis, jakala, memproduksi sperma dan cirri-ciri biologis lainnya yang berbeda dengan biologis perempuan. Sementara perempuan mempunyai alat reproduksi seperti rahim, dan saluran-saluran untuk melahirkan, memproduksi telur (indung telur), vagina, mempunyai payudara dan air susu, dan alat biologis perempuan lainnya sehingga bisa haid, hamil dan menyusui atau yang disebut dengan fungsi reproduksi.

Alat-alat yang dimiliki laki-laki dan perempuan tersebut merupakan atribut yang melekat pada setiap manusia selamaya dan fungsinya tidak dapat dipertukarkan. Alat-alat tersebut bersifat permanen tidak berubah dan merupakan ketentuan biologis atau ketentuan Tuhan (kodrat). Sementara Illich (1991,14) membedakan seks atau jenis kelamin laki-laki dan perempuan berdasarkan biologis dan anatomi. Karena itu jenis kelamin (seks) merupakan sifat bawaan dengan kelahirannya sebagai manusia.

Sedangkan gender adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan pembedaan antara laki-laki dan perempuan secara sosial. Gender adalah kelompok atribut dan perilaku yang dibentuk secara kultural yang ada pada laki-laki dan perempuan. Margert Mead (Sex and Temperament in Three Primitive Societies, 1935) menyatakan bahwa jenis kelamin adalah biologis dan perilaku gender adalah konstrusi sosial. Menurut Oakley (1972, dalam Fakih, 1997), gender adalah pembagian laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Sebagai misal, perempuan dianggap lemah lembut, emosional, keibuan, dan lain sebagainya. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, perkasa, dan sebagainya. Sifat-sifat tersebut bukan kodrat, karena tidak selamanya dan dapat pula dipertukarkan. Artinya, laki-laki ada yang emosional, lemah lembut, keibuan dan sebaginya, sebaliknya perempuan pun ada juga yang kuat, rasional, perkasa dans ebagainya.

Menurut Oakley (1972, dalam Fakih, 1997), gender adalah pembagian laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Sebagai misal, perempuan dianggap lemah lembut, emosional, keibuan, dan lain sebagainya. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, perkasa, dan sebagainya. Sifat-sifat tersebut bukan kodrat, karena tidak selamanya dan dapat pula dipertukarkan. Artinya, laki-laki ada yang emosional, lemah lembut, keibuan dan sebaginya, sebaliknya perempuan pun ada juga yang kuat, rasional, perkasa dans ebagainya.

Engels (dalam Fakih,1997) menjelaskan perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang sangat panjang, melalui proses sosialisasi, penguatan, dan konstruksi social, cultural dan keagamaan, bahkan melalui kekuasaan negara. Oleh karena melalui proses yang begitu panjang itulah, maka lama-kelamaan perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan menjadi seolah-olah ketentuan Tuhan atau kodrat yang tidak dapat diubah lagi. Demikian pula sebaliknya, sosialisasi kontruksi social tentang gender secara evolusi pada akhirnya mempengaruhi perkembangan fisik dan biologis masing-masing jenis kelamin. Seperti misalnya, gender laki-laki harus kuat dan agresif, sehingga dengan konstruksi social semacam itu menjadikan laki-laki terlatih dan termotivasi mempertahankan sifat tersebut, dan akhirnya laki-laki menjadi lebih kuat dan lebih besar. Akan tetapi, dengan berpedoman bahwa setiap sifat biasanya melekat pada jenis kelamin tertentu an sepanjang sifat tersebut bisa dipertukarkan, maka sifat tersebut adalah hasil konstruksi masyarakat, dan sama sekali bukan kodrat (Fakih, 1997:10).

Dengan demikian gender sebagai suatu konsep merupakan hasil pemikiran atau rekayasa manusia, dibentuk oleh masyarakat sehingga gender bersifat dinamis dapat berbeda karena perbedaan adat istriadat, budaya, agama dan sistem nilai dari bangsa, masyarakat dan suku bangsa tertentu. Selain itu gender dapat berubah karena perjalanan sejarah, perubahan politik, ekonomi dan sosial budaya, atau karena kemajuan pembangunan. Dengan demikian, gender tidak bersifat universal atau tidak berlaku secara umum, akan tetapi bersifat situasional masyarakatnya. Oleh karena itu tidak terjadi kerancuan dan pemutarbalikan makna tentang apa yang disebut jenis kelamin (seks) dan gender.

2. Berbagai Pengertian Tentang Gender?

Kata gender dalam bahasa Indonesia, dipinjam dari bahasa Inggris. Menurut kamus, tidak secara jelas dibedakan penegrtian sex dan gender. Echols dan Shadily (1983:265) menyebutkan bahwa gender berarti jenis kelamin. Gender adalah perbedaan yang tampak pada laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Menurut Women’s Studies Encyclopedia, gender adalah suatu konsep kultural, berupaya membuat perbedaan dalam hal peran, perilaku, mentalitas dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat. Dalam bukunya Sex and Gender: an Introduction, Halary M. Lips menyebutkan gender sebagai harapan-harapan budaya pada laki-laki dan perempuan.

Untuk mengetahui lebih jelas tentang perbedaan antara seks (jenis kelamin) dan gender, berikut akan disajikan bagannya.

SEKS GENDER

Biologis Kultur, Adat Istiadat








Pemberian Tuhan Bentukan setelah lahir

(Kodrat) Diajarkan melalui sosialisasi

Internalisasi


Kodrati (alami) Konstruksi sosial

Tidak Dapat Diubah Dapat Diubah (Dinamis)

Peran Seks Peran Gender

Laki-laki Perempuan Memasak, mencuci,

merawat anak dan ortu,

mendidik anak, bekerja di luar rumah, menjadi tenaga professional dsb.

Produksi Reproduksi

(Haid, hamil,

melahirkan,

menyusui,dsb)

Perbedaan Antar Jenis Kelamin dan Gender beserta contohnya

Jenis Kelamin

Contoh

Gender

Contoh

1. Tidak dapat berubah

Alat kelamin laki-laki dan perempuan

1. Dapat berubah

Peran dalam kegiatan sehari-hari, seperti lebih banyak perempuan jadi juru masak jika di rumah, tetapi jika di restoran lebih banyak laki-laki jadi juru masak.

2. Tidak dapat dipertukarkan

Jakun pada laki-laki dan payudara pada perempuan

2. dapat dipertukarkan


3. Berlaku sepanjang masa

Status sebagai laki-laki atau perempuan

3. Tergantung kebudayaan dan kebiasaan

Di Pulau Jawa, pada jaman penjajahan Belanda kaum perempuan tidak memperoleh hak pendidikan, setelah Indonesia merdeka, perempuan mempunyai kebebasan untuk mengikuti pendidikan

4. Berlaku dimana saja

Di rumah, di kantor dan dimana pun berada, seorang laki-laki atau perempuan tetap laki-laki dan perempuan

4. Tergantung kebudayaan setempat

Pembatasan kesempatan dibidang pekerjaan terhadap perempuan dikarenakan budaya setempat, antara lain: diutamakan untuk menjadi perawat, guru TK, pengasuh anak

5. Merupakan Kodrat Tuhan

Laki-laki mempunyai cirri-ciri utama yang berbeda dengan cirri-ciri utama perempuan. Misal: Jakun

5. Bukan merupakan kodrat Tuhan

Pengaturan jumlah anak dalam suatu keluarga

6.Ciptaan Tuhan

Perempuan bisa haid, hamil, melahirkan dan menyusui, sedangkan laki-laki tidak bisa.

6. Buatan Manusia

Laki-laki dan perempuan berhak menjadi calon Ketua RT, RW, Kepala Desa, bahkan Presiden

Sumber: Meneg PP: Panduan Gender dalam Perencanaan Partisipatif diperbanyak oleh Bapemas Propinsi Jawa Timur, tahun 2002

Istilah gender memiliki beberapa pengertian, sebagaimana dikemukakan oleh Heddy Shri Ahimsha Putra (2000) seperti dikutip Mufidah (2004:4), sebagai berikut:

2.1. Gender Sebagai Suatu Istilah Asing dengan Makna Tertentu

Gender berasal dari istilah asing gender yang maknanya tidak banyak diketahui orang secara benar, sehingga wajar jika istilah gender menimbulkan kecurigaan tertentu pada sebagian orang yang mendengarnya. Acapkali, orang memandang perbedaan gender disamakan dengan perbedaan seks (jenis kelamin) sehingga meninmbulkan pengertian yang salah.

2.2. Gender Sebagai Suatu Fenomena Sosial Budaya

Perbedaan jenis kelamin (seks) adalah alami dan kodrati dengan ciri-ciri yang jelas dan tidak dapat dipetukarkan. Oleh karena itu diskriminasi gender tapa mengindahkan perbedaan jenis kelamin yang ada, sama halnya dengan mengingkari suatu kenyataan. Bahkan dijekaskan bahwa kehidupan di dunia ini tidak akan bertahan tanpa ada lagi fungsi reproduksi perempuan, kalau pun ada itu melalui rekayasa.

Sebagai fenomena sosial, gender bersifat relatif dan kontekstual. Gender yang dikenal dalam masyarakat Bali misalnya, berbeda dengan yang dikenal masyarakat Minang, demikian juga dalam masyarakat Jawa. Hal ini sebagai akibat dari konstruksi sosial budaya yang membedakan peran berdasarkan jenis kelamin.

2.3. Gender Sebagai Suatu Kesadaran Sosial

Konsep gender dalam wacana akademik dimaknai sebagai sustu kesadaran sosial. Pembedaan sexual dalam masyarakat merupakan suatu konstruksi sosial. Beraawal dari sinilah kemudian masyarakat menyadari bahwa pembedaan tersebut merupakan produk sejarah dan interaksi warga dengan komunitasnya. Hal inilah yang melahirkan kesadaran bahwa ada banyak hal yang perlu diubah agar hidup ini menjadi lebih baik harmonis dan berkeadilan. Masyarakat sadar akan adanya jenis kelamin tertentu yang lebih unggul sehingga terjadi dominasi jenis kelamin terhadap jenis kelamin yang lain, dan di sini gender menjadi persoalan sosial budaya.

2.4. Gender Sebagai Suatu Persoalan Sosial Budaya

Pembedaan laki-laki dan perempuan sebenarnya bukan menjadi masalah bagi sebagian besar masyarakat. Pembedaan tersebut menjadi masalah ketika melahirkan ketidakadilan dan ketimpangan, karena jenis kelamin tertentu memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari njenis kelamin yang lain. Oleh karena itu, untuk menghapus ketidakadilan gender tidak mungkin dilakukan tanpa melihat akar permasalahannya yaitu pembedaan atas dasar jenis kelamin.

2.5. Gender Sebagai Sebuah Konsep untuk Analisis

Dalam ilmu sosial, konsep dan definisi gender tidak dapat dilepaskan dari asumsi dasar suatu paradigma. Asumsi dasar tersebut merupakan pandangan filosofis dan ideologis. Untuk kepentingan analisis, konsep gender dipahami sebagai akibat dari pembedaan atas dasar jenis kelamin atau yang lain menurut paradigma yang digunakan.

Bahkan Fakih (1997:3) menyebutkan bahwa pemahaman dan pembedaan antara konsep jenis kelamin dan gender sangatlah diperlukan dalam melakukan analisis untuk memahami persoalan-persoalan ketidakadilan soaial yang menimpa kaum perempuan. Menurutnya, hal ini disebabkan ada kaitan yang erat antara perbedaan gender (gender differences) dan ketidakadilan gender (gender inequalities) dengan struktur ketidakadilan masyarakat secara luas. Sebagai analisis baru, disbanding dengan analisis social lainnya, sebenarnya analisis gender tidak kalah mendasar, sebab analisis gender justru mempertajam analisis kritis yang ada. Misalnya analisis kelas yang dikembangkan oleh Karl Marx ketika melakukan kritik terhadap system kapitalisme, menjadi lebih tajam jika pertanyan tentang gender juga dikemukakan. Demikian pula analisis kritis lain seperti hegemoni ideology dan cultural sebagaimana yang dikembangkan oleh Antonio Gramci. Demikian halnya, analisis kritis dalam bidang kebudayaan maupun politik, tanpa pertanyaan tentang gender, kan berwatak mendua. Di satu saat sedang memperjuangkan suatu bentuk ketidakadilan, namun pada saat yang sama justru melanggengkan suatu bentuk ketidakadilan gender. Dengan demikian, analisis gender merupakan analisis kritis yang mempertajam berbagai analisis kritis ekonomi, social, politik, dan budaya yang sudah ada.

2.6. Gender Sebagai Sebuah Perspektif untuk Memandang Suatu Kenyataan

Dalam kaitan ini, gender menjadi sebuah paradigma atau kerangka teori lengkap dengan susmsi dasar, model, dan konsep-konsepnya. Peneliti menggunakan ideologi gender untuk mengungkap pembagian peran atas dasar jenis kelamin beserta implikasi-implikasi sosial budaya yang ditimbulkannya.

Menurut Umar (1999:35), gender sebagai suatu konsep yang digunakan untuk mengidentikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi sosial budaya. Gender dalam pengertian tersebut mendefinisikan laki-laki dan perempuan dari sudut non biologis.

Memperhatikan pengertian-pengertian gender tersebut di atas, maka berarti bahwa pemahaman dan pembedaan yang jelas antara konsep jenis kelamin (seks) dan gender sangat diperlukan dalam membahas masalah ketidakadilan sosial, atau ada keterkaitan antara persoalan gender dan persoalan ketidakadilan sosial lainnya. Dengan demikian, pemahaman atas konsep gender sangat diperlukan mengingat dari konsep ini, lahirlah suatu analisis gender.

Akan tetapi, pada akhir-akhir ini terjadi pemutarbalikan pemahaman dalam masyarakat. Apa yang sesungguhnya gender, yang pada dasarnya merupakan konstruksi sosial, justru dianggap sebagai kodrat yang berarti ketentuan biologis atau ketentuan Tuhan. Artinya ada anggapan sebagian besar masyarakat yang namanya kodrat wanita adalah hasil konstruksi social dan cultural atau gender (Fakih, 1997: 11). Gender mempengaruhi keyakinan manusia serta budaya masyarakat tentang bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berfikir dan bertindak sesuai ketentuan social tersebut. Pembedaan yang ditentukan oleh aturan masyarakat dan bukan biologis itu dianggap ketentuan Tuhan.

Masyarakat sebagai suatu kelompok, menciptkan perilaku pembagian gender untuk menentukan apa yang mereka anggap sebagai suatu keharusan, untuk membedakan laki-laki dan perempuan. Misalnya, mendidik anak, mengelola dan merawat kebersihan dan keindahan rumah tangga atau urusan domestik seperti memasak, mencuci dan merawat anak acapkali dianggap kodrat wanita. Padahal peran gender semacam itu adalah hasil konstruksi social dan kultural dalam masyarakat. Peran-peran gender semacam itu bisa pula dilakukan oleh laki-laki. Oleh karena itu, jenis pekerjaan bisa dipertukarkan dan tidak bersifat universal.

Setelah mengetahui perbedaan antara konsep jenis kelamin (sex) dan gender, maka pertanyaan yang muncul adalah apakah perbedaan jenis kelamin dapat melahirkan perbedaan gender? Lantas permasalahan apa pula yang muncul dengan adanya perbedaan gender tersebut?

3. Perbedaan Gender dan Lahirnya Ketidakadilan

Sebenarnya perbedaan gender (gender differences) tidak akan menjadi masalah selama tidak memunculkan ketidakadilan gender (gender inequalities). Akan tetapi, dalam kenyataan perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan baik bagi laki-laki dan terutama terhadap perempuan. Sedangkan ketidakadilan gender adalah suatu system dan struktur di mana laki-laki dan perempuan menjadi korban system tersebut. Untuk memahami persoalan yang muncul sebagai akibat adanya perbedaan gender dapat dilihat manifestasinya sebagai berikut: Fakih (1997: 12-23).

3.1. Gender dan Marginalisasi Perempuan

Bentuk ketidakadilan gender yang berupa proses marginalisasi perempuan adalah suatu proses pemiskinan atas satu jenis kelamin tertentu dalam hal ini perempuan disebabkan oleh perbedaan gender. Ada beberapa perbedaan jenis dan bentuk, tempat dan waktu serta mekanisme proses marginalisasi perempuan karena perbedaan gender. Dari aspek sumber misalnya, marginalisasi atau pemiskinan perempuan dapat bersumber dari kebijakan pemerintah, keyakinan, tafsir agama, tradisi atau kebiasaan, bahkan asumsi ilmu pengetahuan.

Revolusi hijau (green revolution) misalnya, secara ekonomis telah menyingkirkan kaum perempuan dari pekerjaannya dan kehilangan pekerjaan sehingga terjadilah proses pemiskinan terhadap perempuan. Banyak kaum perempuan miskin di desa termarginalisasi, sehingga semakin miskin dan tersingkir karena tidak memproleh pekerjaan di sawah. Hal ini berarti bahwa program revolusi hijau direncanakan tanpa mempertimbangkan aspek gender.

Marginalisasi kaum perempuan tidak saja terjadi di tempat kerja, akan tetapi juga terjadi di semua tingkat seperti dalam rumah tangga, masyarakat atau kultur dan bahkan sampai pada tingkat negara.

3.2. Gender dan Subordinasi

Pandangan gender ternyata tidak saja berakibat terjadinya marginalisasi, akan tetapi juga mengakibatkan terjadinya subordinasi terhadap perempuan. Adanya anggapan dala masyarakat bahwa perempuan itu emosional, irrasional dalam berpikir, perempuan tidak bisa tampil sebagai pemimpin (sebagai pengambil keputusan), maka akibatnya perempuan ditempatkan pada posisi yang tidak penting dan tidak strategis (second person).

Bentuk subordinasi akibat perbedaan gender ini bermacam-macam, berbeda menurut tempat dan waktu. Pada masyarakat Jawa misalnya, dulu ada anggapan bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, toh akhirnya akan ke dapur. Bahkan dalam keluarga yang memiliki keuangan terbatas, maka pendidikan akan diprioritaskan pada anak laki-laki. Contoh lain, bila seorang laki-laki (baca: suami) akan mengambil kredit di lembaga perbankan maka bisa membuat keputusan sendiri, sebaliknya istri (perempuan) harus seijin suaminya. Praktek subordinasi ini sebenarnya bermula dari kesadaran gender yang tidak adil.

3.3. Gender dan Stereotipi

Stereotipi adalah pelabelan terhadap pihak tertentu yang selalu berakibat merugikan pihak lain dan menimbulkan ketidakadilan. Salah satu stereotipi yang dikenalkan dalam bahasan ini adalah stereotipi yang bersumber pada pandangan gender. Karena itu banyak bentuk ketidakadilan terhadap jenis kelamin yang kebanyakan adalah perempuan yang bersumber pada stereotipi yang melekatnya. Sebagai contoh, adanya anggapan bahwa perempuan yang bersolek atau memakai rok mini akan memancing perhatian lawan jenis, sehingga bila terjadi pelecehan seksual dan perkosaan maka perempuanlah tersebut yang disalahkan. Contoh lain adalah adanya anggapan bahwa bahwa tugas perempuan adalah melayani suami (di rumah), karena itu pendidikan dianggap tidak penting bagi perempuan. Tidak sedikit stereotipi terhadap perempuan yang terjadi dalam peraturan pemerintah, aturan keagamaan, kultur dan kebiasaan masyarakat. Stereotipi semacam itu juga terjadi pada pekerjaan perempuan, seperti adanya anggapan bahwa perempuan bukan pencari nafkah utama keluarga, maka perempuan yang bekerja acapkali dianggap sebagai “sambilan” atau “membantu suami”. Bahkan banyak jenis pekerjaan perempuan yang dianggap tidak bermoral, misalnya pekerjaan sebagai “pelayan” di tempat-tempat minum, “tukang pijat”, atau pekerjaan lainnya yang terkait dengan industri perhotelan dan tourisme, serta pekerjaan yang dilakukan pada waktu malam hari.

.

3.4. Gender dan Kekerasan

Kekerasan (violence) adalah suatu serangan (assault) baik terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. Kekerasan terhadap manusia bisa terjadi karena berbagai macam sumber, salah satunya adalah kekerasan yang bersumber pada anggapan gender. Kekerasan semacam itu disebut “gender-related violence” yang pada dasarnya terjadi karena adanya ketidaksetaraan kekuatan atau kekuasaan dalam masyarakat. Banyak macam kejahatan yang bisa dikategorikan sebagai kekerasan gender yang dilakukan mulai dari tingkat rumah tangga sampai pada tingkat negara. Antara lain sebagai berikut:

  1. Perkosaan terhadap perempuan, termasuk perkosaan dalam perkawinan. Perkosaan terjadi jika seseorang memaksa untuk mendapatkan pelayanan seksual tanpa ada kerelaan dari yang bersangkutan. Meskipun ketidakrelaan ini acapkali tidak terekspresikan karena berbagai factor, seperti ketakutan, malu, keterpaksaan ekonomi, social dan kulutral, bahkan tidak jarang karena adanya ancaman tertentu.
  2. Tindakan pemukulan dan serangan fisik yang terjadi dalam rumah tangga (domenstic violence). Termasuk dalam kekerasan dalam rumah tangga ini adalah kekerasan atau penyiksaan terhadap anak (child abuse).
  3. Penyiksaan organ alat kelamin (genital mutilation), seperti penyunatan terhadap anak perempuan, yang salah satu alasannya adalah untuk mengontrol perempuan.
  4. Prostitusi atau pelacuran. Pelacuran merupakan bentuk kekerasan terhadap perempuan yang diselenggarakan karena suatu mekanisme ekonomi yang merugikan perempuan. Masyarakat dan negara acapkali memandang pekerja seksual selalu menggunakan standar ganda, artinya di satu sisi, pemerintah melarang dan menangkapi pekerja seksual, namun di sisi lain negara juga menarik pajak dari pekerja seksual. Selain itu pekerja seksual dianggap rendah oleh masyarakat, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa kegiatan yang dilakukan pekerja seksual selalu ramai dikunjungi orang.
  5. Kekerasan terhadap perempuan dalam bentuk pornografi. Jenis kekerasan ini termasuk kekerasan non-fisik, yakni pelecehan terhadap kaum perempuan dimana tubuh perempuan dijadikan obyek demi keuntungan seseorang. Hal ini bisa disebut pornografi.
  6. Kekerasan dalam bentuk pemaksaan sterilisasi dalam Keluarga Berencana (enforced sterilization). Keluarga Berencana di banyak masyarakat menjadi sumber kekerasan terhadap perempuan. Karena untuk memenuhi target dalam mengontrol pertumbuhan penduduk, perempuan acapkali dijadikan korban demi suksesnya program tersebut, meskipun kita semua tahu bahwa persoalannya tidak saja pada perempuan melainkan juga berasal dari kaum lelaki. Namun karena telah terjadi bias gender, maka perempuan yang dipaksa untuk melakukan sterilisasi, meskipun sering kali membahayakan perempuan baik secara fisik maupun kejiwaan.

  1. Kekerasan terselubung (molestation). Ada beberapa bentuk yang dapat dikategorikan sebagai kekerasan terselubung (molestation) seperti misalnya memegang atau menyentuh bagian tubuh perempuan dalam berbagai cara dan kesempatan tanpa kereelaannya. Jenis kekerasan terselubung ini dapat terjadi di tempat kerja, tempat umum seperti dalam bus dan sebagainya. Pelecehan seksual ini juga sering terjadi di tempat umum, seperti bus kota dan lain sebagainya.
  2. Kekerasan terhadap perempuan yang paling umum dan sering terjadi dan dilakukan dalam masyarakat adalah berupa pelecehan seksual (sexual and emotional harassment). Jenis kekerasan semacam ini yang banyak terjadi adalah unwanted attention from men. Selain itu pelecehan juga terjadi dalam bentuk lelucon jorok secara vulgar dan ofensif dihadapan kaum perempuan, menyakiti atau membuat malu seseorang dengan omongan kotor, menginterogasi seseorang tentang kehidupan atau kegiatan seksualnya atau kehidupan pribadinya dalam struktur organisasi kerja, meminta imbalan seksual dalam rangka janji untuk mendapatkan kerja atau promosi di tempat kerja, atau menyentuh/menyenggol bagian tubuh tanpa serela atau tanpa seizin yang bersangkutan. Kasus pelecehan seksual yang terjadi terhadap buruh perempuan juga bukan rahasia lagi.

3.5. Gender dan Beban Kerja

Karena adanya anggapan dalam masyarakat kita bahwa kaum perempuan bersifat memelihara, rajin, dan tidak cocok menjadi kepala rumah tangga, maka akibatnya semua pekerjaan domestik menjadi tanggung jawab kaum perempuan. Oleh karena itu beban kerja perempuan yang berat dan alokasi waktu yang lama untuk menjaga kebersihan dan kerapian rumah tangga; mulai dari mengepel lantai, memasak, dan merawat anak dan sebagainya.

Di kalangan keluarga miskin, beban berat harus dikerjakan sendiri, apalagi selain harus mengerjakan tugas-tugas domestik, mereka masih juga dituntut harus bekerja, sehingga perempuan miskin memikul beban kerja ganda. Sedangkan bagi keluarga kaya, beban kerja ini kemudian dilimpahkan kepada pembantu rumah tangga (domestic workers). Pembantu rumah tangga inilah yang menjadi korban dari bias gender di masyarakat. mereka bekerja berat dan lebih lama, tanpa perlindungan dan tanpa adanya kebijakan negara. Selain tanpa perlindungan, hubungan mereka bersifat feodalistik dan perbudakan.

Sebagai akibat bias gender, beban kerja diperkuat lagi dengan pandangan masyarakat bahwa semua pekerjaan yang dilakukan perempuan dalam rumah tangga (domestik) dianggap sebagai “pekerjaan perempuan” karenanya dianggap rendah, dibanding jenis pekerjaan yang dianggap “pekerjaan laki-laki”dan dianggap tidak produktif sehingga tidak diperhitungkan dalam ststistik ekonomi negara, dan sebagai konsekuensinya upah perempuan lebih rendah disbanding laki-laki, bahkan pada jenis pekerjaan yang sama. Keadaan ini telah disosialisasikan selama berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus tahun yang lalu.

Dalam kaitannya dengan beban ganda tersebut, Mosser (1999) menyebutkan bahwa perempuan tidak saja berperan ganda, akan tetapi perempuan memiliki triple role (triple burden), yaitu peran reproduksi, yaitu peran yang berhubungan dengan peran tradisional di sector domestik, peran produktif yaitu peran ekonomis di sector publik dan peran social yaitu peran di komunitas.

Wujud dari ketidakadilan gender seperti marginalisasi, subordinasi, kekerasan, stereotipi dan beban kerja sebagaimana telah diuraikan di atas terjadi di tingkat negara (seperti perundang-undangan dan kebijakan kebijakan yang mencerminkan ketidakadilan gender), terjadi di tempat kerja, dalam adat istiadat, kultur masyarakat, dalam tafsir keagamaan, danjuga terjadi dalam rumah tangga. Hal berarti bahwa semua bentuk ketidakadilan gender sebagaimana yang telah disebutkan pada uraian di atas, sesungguhnya saling terkait dan saling mempengaruhi. Bahkan hal tersebut telah tersosialisasi dan mendarah daging selama bepuluh bahkan beratus-ratus tahun yang lalu mulai tingkatan keyakinan seseorang, keluarga bahkan tingkat negara. Konsekuensinya, baik laki-laki maupun perempuan menjadi terbiasa dan akibatnya peran gender dianggap sebagai sesuatu yang bersifat kodrati. Akhirnya lahir suatustruktur dan system ketidakadilan gender yang “diterima” dan dianggap tidak sebagai sesuatu yang salah.

4. Perspektif

Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian sebelum ini, dapat kita ketahui bahwa akar ketidakadilan gender adalah terjadinya perbedaan gender. Ada pendapat yang berbeda-beda dalam merespon ketidakadilan gender yang terjadi dalam masyarakat, karena perbedaan pandangan, persepektif atau paradigma yang dianutnya.Dalam studi tentang gender, terdapat dua teori besar dalam ilmu social yang melahirkan aliran feminisme, yakni aliran status quo atau fungsionalisme dan aliran konflik.

4.1. Paradigma fungsionalisme dalam Feminisme

Aliran fungsionalisme struktural atau sering disebut aliran fungsionalisme, adalah aliran arus utama (mainstream) dalam ilmu social yang dikembangkan oleh Robert Merton dan Talcott Parsons. Teori ini tidak secara langsung menyinggung persoalan perempuan. Akan tetapi penganut aliran ini bahwa masyarakat adalah suatu system yang terdiri atas bagian, dan saling berkaitan (agama,pendidikan,struktur politik sampai keluarga) dan masing-masing bagian selalu berusaha untuk mencapai keseimbangan (equilibrium) dan keharmonisan, sehingga dapat menjelaskan posisi kaum perempuan.(Fakih,1977:80) Teori ini berkembang untuk menganalisis tentang struktur sosial masyarakat yang terdiri dari berbagai elemen yang saling terkait meskipun memiliki fungsi yang berbeda. Perbedaan fungsi tersebut justru diperlukan untuk saling melengkapi sehingga suatu system yang seimbang dapat terwujud. Oleh karena itu, konsep gender, menurut teori structural fungsional dibentuk menurut pembagian peran dan fungsi masing-masing laki-laki dan perempuan secara dikotomi agar tercipta keharmonisan antara laki-laki dan perempuan.

Menurut penganut teori ini, masyarakat berubah secara evolusioner, sehingga konflik dalam masyarakat dilihat sebagai tidak berfungsinya integrasi social dan keseimbangan. Teori ini memandang harmoni dan integrasi sebagai fungsional, bernilai tinggi, dan harus ditegakkan, sedangkan konflik mesti dihindarkan. Jadi, teori ini menentang setiap upaya yang akan menggoncang status quo, termasuk yang hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat yang selama ini. (Fakih, 1997,81)

Pengaruh fungsionalisme tersebut dapat ditemui dalam pemikiran Feminisme Liberal. Sebelum dijelaskan tentang tentang feminisme liberal, apa sebenarnya yang disebut dengan feminisme? Pada umumnya orang berprasangka bahwa feminisme adalah gerakan pemberontakan terhadap kaum laki-laki, upaya melawan pranata social yang ada, seperti institusi rumah tangga, perkawinan maupun usaha pemberontakan perempuan untuk mengingkari kodrat. Karena adanya prasangka tersebut, maka feminisme tidak mendapat tempat pada kaum perempuan, bahkan ditolak oleh masyarakat Sedangkan menurut kaum feminis, feminsme seperti halnya aliran pemikiran dan gerakan yang lain bukan merupakan suatu pemikiran dan gerakan yang berdiri sendiri, akan tetapi meliputi berbagai ideology, paradigma serta teori yang dipakainya. Meskipun gerakan feminisme berasal dari analisis dan ideology yng berbeda tapi mempunyai kesamaan tujuan yaitu kepedulian memperjuangkan nasib perempuan. Sebab gerakan ini berangkat dari asumsi dan kesadaran bahwa perempuan ditindas, dieksploitasi dan berusaha untuk menghari penindasan dan eksploitasi. (Fakih, 1997:78-79)

Aliran feminis liberal yang dipengaruhi oleh teori structural fungsionalisme, muncul sebagai kritik terhadap teori politik liberal yang pada umumnya menjunjung tinggi nilai otonomi, persamaan dan nilai moral serta kebebasan individu, akan tetapi pada saat yang sama dianggap mendiskriminasi kaum perempuan. Dalam mendefinisikan masalah kaum perempuan, aliran ini tidak melihat struktur dan system sebagai pokok permasalahan.

Asumsi dasar feminisme liberal adalah bahwa kebebasan (freedom) dan kesamaan (equality) berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. Dalam memperjuangkan persoalan masyarakat, menurut kerangka kerja feminis liberal, tertuju pada “kesempatan yang sama dan hak yang sama” bagi setiap individu, termasuk didalamnya kaum perempuan. Kesempatan dan hak yang sama antara laki-laki dan perempuan ini penting, sehingga tidak perlu pembedaan kesempatan. Oleh karena itu, ketika ditanyakan, mengapa kaum perempuan dalam keadaan terbelakang atau tertinggal? Menurut aliran Feminisme liberal hal itu disebabkan oleh kesalahan “mereka sendiri”. Artinya, jika system sudah memberikan kesempatan yang sama pada laki-laki dan perempuan, jika ternyata kaum perempuan tersebut kalah dalam bersaing, maka kaum perempuan itu sendiri yang perlu disalahkan. Aliran ini kemudian mengusulkan, bahwa untuk memecahkan masalah kaum perempuan cara yang dilakukan adalah menyiapkan kaum perempuan agar bisa bersaing dalam suatu dunia yang penuh persaingan bebas.(Tong, 1983 dalam Ichromi, 1995:83)

Sebagian dari usaha ini dapat dilihat, misalnya, dalam program-program Perempuan dalam Pembangunan (Women in Development) yakni dengan menyediakan “program intervensi guna meningkatkan taraf hidup keluarga seperti pendidikan, keterampilan” serta “kebijakan yang dapat meningkatkan kemampuan perempuan sehingga mampu berpartisipasi dalam pembangunan”. Feminisme liberal tidak pernah mempersoalkan terjadinya diskriminasi sebagai akibat dari ideology patriarki (Fakih,1997, 80-83)

4.2. Paradigma Konflik dalam Feminisme

Teori konflik lahir sebagai reaksi terhadap teori struktural fungsional. Teori ini percaya bahwa setiap kelompok masyarakat memiliki kepentingan (interest) dan kekuasaan (power) yang merupakan sentral dari setiap hubungan social termasuk hubungan laki-laki dan perempuan.

Bagi penganut aliran konflik, gagasan dan nilai-nilai selalu dipergunakan sebagai alat untuk menguasai dan melegitimasi kekuasaan, tidak terkecuali hubungan antara laki-laki dan perempuan. Atas dasar asumsi itu, maka perubahan akan terjadi melalui konflik, yang berakibat akan merubah posisi dan hubungan. Demikian juga, perubahan yang terjadi pada hubungan antara laki-laki dan perempuan akan dilihat dari konflik antar dua kepentingan. Aliran feminisme yang dikategorikan dalam teori konflik ini adalah :

Kelompok pertama, aliran Feminisme Radikal. Aliran ini justru muncul sebagai kultur sexism atau diskriminasi social berdasarkan jenis kelamin di Barat pada tahun 60-an, yang sangat penting dalam melawan kekerasan seksual dan pornografi (Brownmiller, 1976 dalam Fakih, 1997: 84).

Sejumlah penganut feminis radikal, menyebutkan ada dua system kelas sosial: pertama, system kelas ekonomi yang didasarkan pada hubungan produksi dan kedua, system kelas seks yang didasarkan pada hubungan reproduksi. Sistem kedua inilah yang menyebabkan penindasan pada perempuan. (Bashin, 1996 :36). Karena itu konsep patriarki merujuk pada system kelas yang kedua, yaitu pada kekuasaan atas kaum perempuan oleh kaum l kapasitas reproduktif perempuan. Para penganut feminisme radikal tidak melihat adanya perbedaan antara tujuan personal dan politik, unsure-unsur aki-laki, yang didasarkan pada pemilikan dan kontrol laki-laki atas seksual atau biologis, sehingga dalam melakukan analisis tentang penyebab penindasan terhadap kaun perempuan oleh laki-laki, akar permasalahannya pada jenis kelamin laki-laki itu sendiri beserta ideology patriarkinya. (Amal, 1995 dalam Ichromi, 1995: 93). Dengan demikian “kaum laki-laki” secara biologis maupun politis adalah bagian dari permasalahan. Berawal dari situlah aliran feminisme ini menganggap bahwa penguasaan fisik perempuan oleh laki-laki, seperti hubungan seksual, adalah bentuk penindasan terhadap kaum perempuan (Jaggar, 1977 dalam Fakih, 1997: 85). Lebih lanjut, penganut aliran feminis radikal, patriarki adalah sumber ideology penindasan yang merupakan system hirarki seksual dimana laki-laki memiliki kekuasaan superior dan privilege ekonomi (Eisenstein,1979).

Akan tetapi aliran feminis Marxis, menganggap bahwa analisis yang dilakukan feminis liberal disebut sebagai ahistoris, karena menganggap patriarki sebagai hal yang universal dan merupakan akar dari segala penindasan. Dalam melakukan analisis hubungan antara laki-laki dan perempuan, mereka tidak menggunakan kerangka teori kelas secara serius, sehingga sering dianggap membingungkan. Karenaitu hubungan gender direduksi pada perbedaan kodrati yang bersumber dari biologi.

Kelompok penganut teori konflik yang kedua adalah Feminisme Marxis. Kelompok ini menolak keyakinan kaum feminisme radikal yang menyatakan biologi sebagai dasar pembedaan gender. Bagi mereka penindasan perempuan adalah bagian dari penindasan kelas dalam hubungan produksi. Persoalan perempuan selalu diletakkan dalam kerangka kritik atas kapitalisme. Karl Marx sendiri tidak banyak menjelaskan dalam torinya tentang posisi kaum perempuan dalam perubahan social. Menurut Marx, hubungan antara suami dan istri serupa dengan hubungan antara proletar dan borjuis, serta tingkat kemajuan masyarakat dapat diukur dari status perempuannya.

Sedangkan Engels (dalam Fakih,1997:87)mengulas masalah ini dalam sejarah prakapitalisme, dengan menjelaskan bahwa sejarah terpuruknya status perempuan bukan disebabkan oleh perubahan teknologi, melainkan karena perubahan dalam organisasi kekayaan sebagaimana dijelaskan bukunya yang berjudul The Origin of the Family: Private Property and the State. Oleh karena sejak awal, laki-laki mengontrol produksi untuk perdagangan, maka mereka mendominasi hubungan social dan politik dan perempuan direduksi menjadi bagian dari property belaka. Sejak itulah dominasi laki-laki dimulai. (Amal, 1995 dalam Ichromi, 1995: 89)

Pada zaman kapitalisme, penindasan perempuan malah dilanggengkan oleh berbagai cara dan alasan karena menguntungkan. (Fakih, 1997: 87-88) Pertama, eksploitasi pulang ke rumah, yakni suatu proses yang diperlukan guna membuat laki-laki yang dieksploitasi di pabrik bekerja lebih produktif. Buruh laki-laki yang dieksploitasi oleh kapitalis tersebut, setelah sampai di rumah dan laki-laki terlibat hubungan kerja dengan istrinya. Dalam analisis ini system dan struktur hubungan antara kapitalis, buruh, dan istrinya akhirnya menguntungkan pihak kapitalis. Kedua, kaum perempuan dianggap bermanfaat bagi system kapitalisme dalam reproduksi buruh murah. Ketiga, masuknya perempuan sebagai buruh juga dianggap oleh mereka menguntungkan system kapitalisme karena dua alas an, yaitu upah buruh perempuan seringkali lebih rendah dibandingkan dengan buruh laki-laki, rendahnya upah buruh ini lebih diperparah karena adanya anggapan masyarakat bahwa perempuan merupakan pekerja tidak berupah (unpaid worker). Selain itu, masuknya perempuan dalam sector perburuhan juga dianggap menguntungkan system kapitalisme karena perempuan dianggap sebagai tenaga cadangan yang tak terbatas, sebagai akibatnya posisi tawar buruh semakin rendah dan sekaligus mengancam solidaritas kaum buruh, dan akhirnya akumulasi kapital semakin cepat. Banyak analisis yang menyimpulkan bahwa salah satu musuh terbesar kapitalisme adalah feminisme.

Oleh karena itu menurut penganut feminisme Marxis, penindasan perempuan merupakan kelanjutan dari eksploitatif yang bersifat structural. Aliran ini, tidak menganggap patriarki ataupun kaum laki-laki sebagai permasalahan, akan tetapi justru system kapitalisme yang menjadi penyebabnya. Dari perspektif ini, maka emansipasi perempuan terjadi hanya jika perempuan terlibat dalam produksi dan berhenti mengurus rumah tangga.

Aliran konflik yang ketiga adalah Feminisme Sosialis. Feminis sosialis mulai dikenal tahun 1970-an. Mitchel dengan bukunya Women’s Estate (1971 dalam Mufidah, 2004:43) telah meletakkan asar-dasar feminisme sosialis. Menurutnya politik penindasan sebagai suatu konekuensi baik penindasan kelas maupun penindasan patriarkis. Penganut aliran ini, menerima dan menggunakan prinsip dasar Marxisme dan memperluasnya dengan bidang yang selama ini diabaikan oleh teori Marxis konvensional, dengan menggabungkan feminis radikal dan feminis Marxis. (Bhasin, 1996:38). Menurut banyak kalangan terutama pengikut gerakan perempuan, aliran ini dianggap lebih memiliki harapan, karena analisis yang ditawarkan lebih dapat diterapkan. Bagi feminisme sosialis, penindasan perempuan terjadi di kelas manapun, bahkan revolusi sosialis ternyata tidak serta merta menaikkan posisi perempuan. Asumsi yang digunakan oleh femisnis sosialis adalah bahwa hidup dalam masyarakat yang kapitalis bukansatu-satunya penyebab keterbelakangan perempuan sebagai perempuan (Amal, 1995 dalam Ichrom, 1995:105). Feminis sosialis menolak visi Marxis yang meletakkan eksploitasi ekonomi sebagai dasar penindasan gender. Sebaliknya, feminisme tanpa kesadaran kelas juga menimbulkan masalah. Oleh karena itu analisis patriarki perlu dikawinkan dengan analisis kelas. Dengan demikian kritik terhadap eksploitasi kelas dari system kapitalisme harus dilakukan pada saat yang sama dengan disertai kritik ketiadakadilan gender yang mengakibatkan dominasi, subordinasi dan marginalisasi atas kaum perempuan. (Fakih, 1997:89-90)

Lebih lanjut dijelaskan bahwa teori kapitalis patriarki, yang diungkapkan pertama kali oleh Zillah Eisenstein, menyamakan dialektika antara struktur kelas kapitalis dengan struktur hirarki seksual. Eisenstein memulai teorinya dengan tesis perempuan sebagai suatu kelas (women as a class) yang diterapkan, dengan menguraikan apa yang disebut oleh Marx sebagai keterasingan (alienation), untuk melihat nasib perempuan. Dalam analisanya, Eisenstein melihat bahwa patriarki sudah muncul sejak sebelum kapitalisme dan tetap ada dan bahkan semakin parah pada era pasca kapitalisme. Pandangan ini agak berbeda dengan Engels yang justru melihat persoalan ekonomi, yakni pada awal timbulnya private property yang membawa akibat pada pendominasian kaum perempuan.

Selain aliran-aliran feminis sebagaimana tersebut, ada satu aliran feminis yang dikenal dengan feminis Post-Modern. Aliran atau pendekatan ini berupaya menolak pendekatan-pendekatan terdahulu, dengan melakukan dekonstruksi total, bukan hanya terhadap relasi dan definisi gender, tetapi utamanya pada definisi perempuan. Menurut aliran ini, tida satu subyek atau gagasan yang memiliki identitas yang berdiri sendiri terpisah dari latar belakang sosial, politik, budaya dan sejarah. Dengan demikian tidak ada satu pun definisi “perempuan” atau “gender” yang ditetapkan hanya dari perspektif perempuan atau laki-laki. Dijelaskan lebih lanjut bahwa pendekatan feminis post-modern ini dapat membantu usaha merekonstruksi proses pembentukan identitas gender dan pelembagaan identitas gender dalam lingkup interbasional.

Salah satu kelemahan pendekatan ini, menurut Whitworth bahwa relativitas yang menjadi inti pendekatan ini justru mempersulit upaya untuk mencari jalan guna meningkatkan posisi tawar perempuan.

5. Keadilan Gender dan Agenda Pembangunan

Pertanyaan pertama sebelum kita membahas tentang keadilan gender dan agenda pembangunan, adalah mengapa pembangunan merupakan isu gender? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat sekilas paradigma pembangunan yang selama ini diterapkan di hampir semua negara di dunia. Paradigma pembangunan yang dominan dan dianggap telah mapan adalah paradigma pembangunan yang hanya megutamakan factor ekonomi, khususnya adalah pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan aspek lain seperti aspek-aspek kemanusiaan. Oleh karena itu, meskipun pertumbuhan ekonomi di berbagai negara menunjukkan angka yang tinggi, justru semakin memperlebar jurang kemiskinan (terutama pada kelompok perempuan). Kenyataan menunjukkan bahwa hasil pembangunan belum secara merata dapat dinikmati. Artinya pembangunan belum memberi manfaat secara adil baik kepada laki-laki maupun perempuan.

Pembangunan yang dianggap “netral” (tanpa membedakan laki-laki dan perempuan) dan diharapkan dapat memberi efek manfaat yang sama kepada semua warga, justru memberi kontribusi munculnya ketidaksamaan dan ketidakadilan gender. Bentuk-bentuk ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender dikenal dengan istilah kesenjangan gender (gender gap) dan berakibat timbulnya permasalahan gender (gender issues).

Kesenjangan jender di berbagai bidang pembangunan itu misalnya dapat dilihat dari :

§ Masih rendahnya peluang yang dimiliki perempuan untuk bekerja dan berusaha terutama di sector sekir formal;

§ Rendahnya akses perempuan terhadap sumberdaya ekonomi, seperti teknologi, informasi, pasar, kredit, dan modal kerja;

§ Pembagian kerja yang tidak adil antara laki-laki dan perempuan dimana perempuan telah terlibat dalam pekerjaan produksi, namun kerja kerja reproduksi di dalam rumah tetap dianggap sebagai tanggung jawab perempuan;

§ Posisi perempuan di wilayah social dan politik masih rendah dibandingkan dengan laki-laki;

§ Meskipun penghasilan perempuan pekerja memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap penghasilan dan kesejahteraan keluarga, namun perempuan masih dianggap sebagai pencari nafkah tambahan dan pekerja keluarga, dan dianggap tenaga cadangan (sekunder);

Dalam kajian gender, kepentingan perempuan untuk memperbaiki posisi/statusnya dalam masyarakat menjadi semakin terganggu jika kesulitan ekonomi ekonomi menekan mereka. Sebab itu mengintegrasikan perspektif gender dalam program pembangunan menjadi keharusan dengan alasan obyektif yaitu perbaikan perekonomian (economic performance) sekaligus alasan subyektif yaitu demi keadilan ekonomi dan kesetaraan gender. Oleh karenanya, menjadi kewajiban bagi pemerintah dan khusus bagi pengambil kebijakan untuk secara sengaja melakukan tindakan khusus (special measures) dengan mempertimbangkan kondisi spesifik perempuan yang ditujukan untuk memperbaiki statusnya. Akhirnya memungkinkan perempuan (semua orang) untuk ikut terkibat dalam pembangunan termasuk pembangunan ekonomi (sehingga bukan saja sebagai obyek melainkan juga sebagai subyek pembangunan).

Itulah sebabnya, sejak dua decade terakhir ini, tolok ukur keberhasilan pembangunan di suatu negara bukan hanya dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM)/Human Develeopment Index (HDI) yang mengukur pencapaian pembangunan keseluruhan ari suatu negara secara umum (tanpa membedakan laki-laki dan perempuan seperti aspek ekonomi, kesehatan dan pendidikan, tetapi juga dilihat dari aspek keadilan gender yaitu Indeks Pembangunan Gender IPG)/Gender-related Development Index(GDI) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG)/Gender Empowerment Measure (GEM). IPG mengukur pencapaian dalam dimensi yang sama dan menggunakan indicator yang sama dengan IPM tetapi lebih diarahkan untuk mengungkap ketimpangan antara laki-laki dan perempuan. Sedangkan IDG memperlihatkan apakah perempuan dapat mengambil peran aktif dalam kehidupan ekonomi dan politik. IDG lebih memfokuskan pada partisipasi, mengukur ketimpangan gender pada bidang-bidang kunci dalam partisipasi ekonomi dan politik serta pengambilan keputusan.

Oleh karena itu dua indicator yaitu Indeks Pembenagunan Gender (IPG) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) merupakan bagian yang sangat penting dan tidak dapat dilepaskan dari Indeks Pembangunan Gender. Hasil pengukuran Human Development Report tahun 2000, Indeks Pembangunan Gender Indonesia (IPG) menempati urutan ke 109 dari 174 negara yang diukur, hal berarti lebih rendah dari negara-negara ASEAN yang lain (Meneg PP, 2001,14-15).

Bagaimana dengan perkembangan pembangunan manusia di Indonesia? Kemajuan pembangunan manusia berbeda-beda antardaerah/propinsi dan kabupaten/kota. Di semua propinsi di Indonesia, nilai IPG lebih rendah daripada IPM, kenyataan ini menunjukkan terjadinya ketumpangan gender di mana-mana. Pada kurun waktu 1996-1999, jarak antara IPM dan IPG semakin mengecil, menunjukkan adanya kemajuan dalam mengurangi ketimpangan gender.

Sejak terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1997 yang melanda negara Indonesia, maka pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mengalami penurunan di semua propinsi. Bila dibandingkan dengan tahun 1996, IPM yang dicapai pada tahun 1999 terlihat semakin jauh dari nilai maksimum. Penurunan IPM ini juga diikuti dengan penurunan Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG). Secara nasional penuruan IPM dan IPG. Secara nasional penurunan IPM dan IPG sekitar 5%, sedangkan penurunan IDG cukup tajam yaitu sebesar 15%. Penurunan IDG yang relatif besar ini sebagai akibat turunnya proporsi perempuan di DPRD, dibanding dengan Pemilu 1992. hal ini menunjukkan bahwa pemilihan yang demokratis tidak menjamin peningkatan keterwakilan perempuan. (Meneg PP, 2000,1-3)

Melihat kenyataan yang ada, maka mengintegrasikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan, dan permasalahan perempuan dan laki-laki ke dalam pembangunan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi dalam penggunaan sumber daya pembangunan. Untuk itu, maka perlu pembangunan yang responsive jender yaitu pembangunan yang responsif terhadap pengalaman, aspirasi, dan permasalahan perempuan dan laki-laki.

6. Pendekatan Pembangunan

Di berbagai negara dunia ketiga terutama sejak dua decade terakhir, telah mengembangkan suatu kebijakan, program dan proyek yang secara khusus dirancang untuk membantu perempuan. Namun, sampai sejauhmana perencanaan itu telah memenuhi kebutuhan gender perempuan, maka perlunya penelaahan konsep yang mendasari berbagai pendekatan kebijakan tersebut. Ada lima pendekatan, yaitu:

1. Pendekatan Kesejahteraan

Ada tiga asumsi pendekatan kesejahteraan. Pertama, perempuan dianggap lebih sebagai penerima pasif daripada sebagai subyek pembangunan. Kedua, peran pengasuhan (motherhood) merupakan peran yang paling penting bagi perempuan dalam masyarakat. Ketiga, mengasuh anak adalah peran perempuan yang paling efektif dalam semua aspek pembangunan ekonomi. Penedekatan ini dianggap berorientasi pada keluarga, dengan pusat perhatian pada kelompok perempuan dalam peran produktif, serta mengasumsikan laki-laki memiliki peran produktif, hubungan ibu-anak sebagi pusat perhatian mereka. Implementasi pendekatan ini dalah pemberian bantuan cuma-cuma secara top down dan ketrampilan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Akan tetapi pendekatan ini lebih menekankan pada pemenuhan kebutuhan praktis gender yang berkaitan dengan peran reproduksi perempuan. Penekatan ini mengidentifikasi perempuan sebagi persoalan daripada sebagai sumberdaya. Oleh karena pendekatan ini menggunakan metode top down dalam pelaksanaannya, maka pendekatan inijustru menimbulkan ketergantungan perempuan dan tidak membantunya untuk lebih mandiri. Meskipun demikian pendekatan kesejahteraan ini lebih popular karena aman secara politis, tidak mempersoalkan peran tradisional yang diterima perempuan dalam pembagian kerja secara seksual. Akan tetapi dengan asumsi-asum tersebut justru mengesampingkan peranperempuan dalam program pembangunan yang dilaksanakan oleh lembaga-lembaga pembangunan yang besar dan menyediakan dana pembangunan dalam proporsi yang signifikan. (Mosse, 1996: 198)

2. Pendekatan Keadilan

Pendekatan ini menyadari bahwa perempuan adalah peserta aktif dalam proses pembangunan. Sebab melalui peran reproduktif dan produktif, perempuan memberi sumbangan yang penting, meskipun sumbangan tersebut acapkali tidak diakui bagi pertumbuhan ekonomi. Asumsi pokok pendekatan ini adalah bahwa strtegi-strategi ekonomi seringkali berdampak negatif pada kaum perempuan, dan karena itu kaum perempuan hrus dilibatkan dalam proses pembangunan dengan meningkatkan akses dan kesempatan kerja, sehingga pendekatan ini menyadari akan kebutuhan praktis gender terutama dalam memperoleh pekerjaan. Buvinic (1986) menjelaskan bahwa focus utama pendekatan ini adalah ketidakadilan antara laki-laki dan perempuan, baik dalam kehidupan publik, pribadi maupun dalam kelompok-kelompok social ekonomi. Pendekatan ini juga menjelaskan bahwa asal usul subordinasi kaum perempuan tidak hanya dalam konteks keluarga, tetapi juga dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan di lokasi pasar (market place), sehingga pendekatan ini lebih mementingkan kemandirian ekonomi sebagai wujud keadilan.Pendekatan ini berusaha mengurangi ketidakadilan antara laki-laki dan perempuan, terutama dalam pembagian kerja secara seksual, maka pendekatan keadilan ini juga memenuhi kebutuhan strategis gender. Program-program keadilan ini diidentifikasikan sebagai persamaan hak. Ide pokoknya adalah pengabaian peran perempuan dalam proses pembangunan, karena itu perlu suatu proses redistribusi, dimana kaum laki-laki harus membagi sedemikian rupa sehingga kaum perempuan dari semua tingkatan social ekonomi memperoleh manfaat, dan laki-laki di semua tingkatan dapat mengurangi kekuasaannya, bahkan jika perlu melalui diskriminasi positif.

3. Pendekatan Anti Kemiskinan

Pendekatan anti kemiskinan atau anti poverty approach melihat bahwa ketidakadilan ekonomi antara laki-laki dan perempuan tidak dikaitkan dengan subordinasi, tetapi berkaitan dengan kemiskinan, karena itu perhatiannya bergeser dari upaya mengurangi ketidaksamaan pendapatan. Menurut Buvinic (1983) pendekatan ini merupakan versi lain dari pendekatan keadilan, yang timbul sebagai akibat keengganan lembaga-lembaga pembangunan untuk melakukan campur tangan terhadap hubungan antara laki-laki dan perempuan yang telah terbentuk dalam masyarakat tertentu.

Pusat perhatian pendekatan ini pada anti kemiskinan peran produktif perempuan. Hal ini mengacu pada anggapan bahwa penghapusan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi yang seimbang perlu adanya peningkatan produktifitas perempuan di rumah tangga berpenghasilan rendah. Asumsi pendekatan ini adalah bahwa akar kemiskinan perempuan dan ketimpangannya dengan laki-laki disebabkan lemahnya kepemilikan tanah dan kepemilikan modal secara pribadi, dan diskriminasi seksual pada pasar kerja. Oleh karena itu, diperlukan adanya kebebasan untuk memperoleh kesempatan kerja dan peningkatan penghasilan di kalangan perempuan kelas bawah dengan membuka akses terhadap sumber-sumber ekonomi( akses terhadap sumberdaya produktif). Perhatian utama pendekatan ini adalah pada kebutuhan strategis, terutama pada program KB untuk mengurangi kelahiran, program pendidikan dan ketenagakerjaan.

4. Pendekatan Efisiensi

Tekanan pendekatan efisiensi, bergeser dari perempuan ke pembangunan, dengan asumsi bahwa meningkatnya partisipasi ekonomi perempuan di negara dunia ketiga, secara otomatis terkait dengan keadilan. Menurut pendekatan ini, pembangunan hanya akan efisien bila perempuan dilibatkan. (Mosse, 1996: 206) Asumsi bahwa partisipasi ekonomi dapat meningkatkan status perempuan dan berkaitan dengan keadilan telah dikritik secara luas, seperti halnya pengidentifikasian beberapa faktor pokok yang menghambat partisipasi perempuan seperti rendahnya tingkat pendidikan dan teknologi yang kurang produktif. Maguire (1984) berpendapat bahwa pergeseran dari sumberdaya manusia yang ada untuk pembangunan disia-siakan atau dimanfaatkan secara maksimal. Sementara apa yang disebut industri pembangunan menyadari bahwa perempuan sangat penting untuk keberhasilan pembangunan secara keseluruhan, namun betapa pun hal itu bukan lantas berarti bahwa pembangunan meningkatkan perempuan.

5. Pendekatan Empowerment (Penguatan Diri)

Pendekatan ini berkembang sebagai akibat adanya ketidakpuasan terhadap pendekatan awal Women In Development (WID) seperti pendekatan keadilan, karena dianggap dikooptasikan terhadap pendekatan anti kemiskinan dan efisiensi. Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan keadilan, tidak hanya asal usulnya, melainkan juga dalam sebab-sebab, dinamika dan struktur penindasan perempuan yang diusutnya sebagai strategi, yang bermaksud merubah posisi perempuan di dunia ketiga.

Pendekatan ini berdasarkan asumsi dasar yang berkaitan dengan hubungan kekuasaan dan pembangunan sebagaimana yang mendasari pendekatan-pendekatan sebelumnya. Pendekatan ini berusaha mengidentifikasi kekuasaan dalam rangka meningkatkan kemandirian dan kekuatan internal perempuan. Pendekatan ini tidak menekankan pada “status” perempuan secara relatif terhadap laki-laki, seperti pendekatan keadilan tetapi berupaya memberikan kekuasaan kepada perempuan melalui pendistribusian kembali kekuasaan di dalam dan di antara masyarakat.

Perbedaan penting antara pendekatan empowerment dengan pendekatan keadilan adalah pada cara, di mana pendekatan empowerment berupaya untuk menmcapai kebutuhan strategis gender secara tidak langsung melalui kebutuhan praktis gender. Beda dengan pendekatan keadilan yang melakukan pendekatan konfrontasi, pendekatan empowerment membangun basis kebutuhan praktis gender sebagai basis bagi landasan yang kuat untuk mencapai kebutuhan strategis gender (*).