Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Juli 2011

Sistematika Proposal Penelitian

Proposal penelitian merupakan rancangan penelitian yang berfungsi sebagai pedoman yang berisi petunjuk  atau langkag-langkah dalam melakukan penelitian. Penelitian berawal dari adanya kesenjangan antara apa yang seharusnya dengan apa yang sedang terjadi. Masalah itu muncul dalam bentuk ruang (tempat) dan waktu. Rancangan penelitian selayaknya disusun secara sistematis dan logis sehingga memudahkan peneliti untuk mengikuti langkah-langkahnya. Berikut sistematika susunan proposal penelitian. Semoga bermanfaat.



Proposal Penelitian Kuantitatif
I. PENDAHULUAN
   A. Latar Belakang Masalah
   B. Identifikasi Masalah
   C. Batasan Masalah
   D. Rumusan Masalah
   E. Tujuan Penelitian
   F. Kegunaan Hasil Penelitian
II. LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
   A.  Deskripsi Teori
   B.  Kerangka Berfikir
   C.  Hipotesis
III. PROSEDUR PENELITIAN
   A.  Metode
   B.  Populasi dan Sampel
   C.  Instrumen Penelitian
   D.  Teknik Pengumpulan Data
   E.  Teknik Analisa Data
IV. ORGANISASI DAN JADWAL PENELITIAN
  A. Organisasi Penelitian
  B.  Jadwal Penelitian
V. BIAYA YANG DIPERLUKAN


Proposal Penelitian Kualitatif
I. PENDAHULUAN
   A.  LBM
   B.  Fokus Penelitian
   C.  Rumusan Masalah
   D.  Tujuan Penelitian
   E.  Manfaat Penelitian
II. STUDI KEPUSTAKAAN
   A.  .........
   B.  .........
   C.  ........
III. PROSEDUR PENELITIAN
   A.  Metode dan alasan menggunakan metode tersebut
   B.  Tempat Penelitian
   C.  Instrumen Penelitian
   D.  Sampel Sumber Data
   E.  Teknik Pengumpulan Data
   F.  Teknik Analisa Data
   G.  Rencana Pengujian Keabsahan Data
IV. ORGANISASI DAN JADWAL PENELITIAN
   A.  Organisasi Penelitian
   B.  Jadwal Penelitian
V. BIAYA YANG DIPERLUKAN

Senin, 13 Desember 2010

Johnny Andrean School vs Johnny Andrean Salon

Buat para pemula yang belum pernah mencoba Johnny Andrean School & Training dan Johnny Andrean Salon, sebaiknya Anda, terutama para mahasiswa, mencari tahu info mengenai keduanya terlebih dahulu. Johnny Andrean Salon menyediakan Johnny Andrean School & Training bagi mereka yang ingin menyalurkan hobby dan bakatnya. Dilatih oleh tenaga-tenaga profesional dan didukung oleh peralatan yang lengkap, membuat Johnny Andrean School & Training siap mencetak seorang kapster yang profesional. Setelah lulus dari pelatihan ini, trainee akan mendapatkan sertifikat kelulusan menjadi seorang kapster.Karena baru pemula, maka jelas tarif perawatan antara Johnny Andrean Salon dan Johnny Andrean School & Training berbeda hampir 90%.
Apabila Anda memilih untuk coba-coba dan tidak merogoh kocek terlalu dalam, maka Johnny Andrean School & Training adalah tempat yang cocok untuk Anda. Tetapi dengan satu catatan penting: kapster yang ada adalah pemula dan tidak dijamin keprofesionalannya! Berdasarkan pengalaman pribadi saya, Johnny Andrean School & Training bisa dibilang cukup memuaskan bagi kalangan mahasiswa, hehee. Kebetulan saya punya sedikit referensi tarif perawatan Johnny Andrean School & Training Surabaya Plasa Lt. 3:

Hair Treatment:
Gunting + Blow       : Rp    9.000
Cuci Blow               : Rp  10.000
Creambath + Blow  : Rp  15.000
Hair Spa + Blow     : Rp  20.500
Hair Mask + Blow   : Rp  21.000
Keriting + Blow       : Rp  27.000
Bonding + Blow       : Rp  92.000
Smoothing + Blow    : Rp147.000
Make Up                  : Rp 14.000
Refleksi                     : Rp 19.000
Back Therapy           : Rp  18.000
Manicure/Pedicure    : Rp  20.000

New Services:
Wave Spa + Blow     : Rp  73.000
Hair Refresh + Blow  : Rp  23.000
Glow Color + Blow   : Rp  53.000
Glee Color + Blow    : Rp  53.000

Harga tsb untuk pemakaian produk standar, untuk pemakaian produk diluar standar, seperti vitamin, akan dikenakan biaya tambahan. Harga diatas untuk perawatan rambut medium.
Tarif Johnny Andrean School & Training hampir 90% dibawah Johnny Andrean Salon Pro. Nah, silahkan dipertimbangkan lagi. Percantik diri Anda dengan harga spesial!

Jumat, 02 Juli 2010

Kompleksitas Tugas Mempengaruhi Pencarian dan Penggunaan Informasi (Katriina Byström and Kalervo Järvelin)

Pendahuluan
- Tradisi penelitian (penelitian terdahulu) tentang pencarian informasi hanya melihat pencarian informasi dari sudut pandang sistem dan menganggap bahwa pengguna informasi sebagai penerima pasif, yang tergantung pada situasi dari informasi yang obyektif (Dervin & Nilan, 1986).
- Namun tradisi ini telah bergeser, dan telah diterima fakta bahwa kebutuhan informasi serta proses pencarian informasinya salah satunya tergantung pada tugas pekerja (Belkin, dkk., 1982; Ingwersen, 1992; Mick, dkk., 1980). Contohnya, Belkin, dkk., (1982) menyatakan bahwa pencarian informasi adalah didasarkan pada tugas (permasalahan) pekerja. Ingwersen (1992) memperlihatkan bahwa information retrieval (memperoleh kembali informasi) yang efektif harus didasarkan pada pemahaman terhadap tugas dan permasalahan pekerja. Selain itu banyak studi mempelajari hubungan antara banyak jenis tugas (misalnya, dalam sains, teknologi, studi-studi sosial, administrasi) serta perilaku pencarian informasi (misalnya, berbagai macam jenis saluran dan sumber yang disukai atau dikonsultasikan; Brittain, 1974; Dervin & Nilan, 1986) atau komunikasi (misalnya, Tushman, 1978). Namun demikian, terdapat sedikit analisa empiris tentang hubungan jenis tugas dan jenis informasi yang diperlukan untuk tugas tersebut, dan ini adalah titik fokus dalam studi kali ini.
- Wersig mengatakan bahwa kebutuhan serta proses pencarian informasi adalah tergantung pada tugas pekerja. Berjalannya tugas tergantung persyaratan informasi yang harus dipenuhi bila tugas ingin diselesaikan (Wersig, 1973). Ketika dihadapkan dengan tugas, pekerja dihadapkan pada statu kebutuhan informasi yang mencerminkan interpretasinya terhadap persyaratan informasi, pengetahuan terdahulu dan kemampuannya untuk mengingatnya. Mungkin terdapat gap (kesenjangan) antara pengetahuan pekerja tentang tugas dan persyaratan yang dirasakan terhadap tugas (Belkin, dkk., 1982). Adanya gap ini mendesak munculnya kebutuhan informasi tersebut.
- Tugas yang dilaksanakan oleh seorang pekerja dapat dianalisa dan dikelompokan dengan banyak cara berbeda oleh yang bersangkutan. Tipikal pekerjaan yang teranalisa menghasilkan variasi pekerjaan serta kekompleksannya.
- Kompleksitas tugas adalah salah satu faktor paling penting yang sangat mempengaruhi pelaksanaan tugas. Hal ini pernah teramati dalam percobaan psikologi (misalnya, Locke, dkk., 1981; Wood, dkk., 1987), dalam studi organisasi (March & Simon, 1967; Van de Ven & Ferry, 1980), serta dalam studi pencarian informasi (Culnan, 1983; Hart & Rice, 1991; Tiamiuy, 1992). Namun demikian, kompleksitas tugas adalah bersifat multidimensional (Campbell, 1988) dan dipahami dengan banyak cara berbeda.
- Hubungan antara kompleksitas tugas dan pencarian informasi telah diselidiki dalam beberapa studi empiris (misalnya, O’Reilly, 1982; Tiamiyu, 1992; Tushman, 1989). O’Reilly (1982) melalui kuesioner hubungan kompleksitas tugas yang dirasakan, kualitas informasi dan kemampuan mengakses serta pencarian informasi.
- Informasi bisa diakses melalui banyak saluran (misalnya, rekan, katalog telepon dan sistem retrieval) dari berbagai sumber (misalnya, rekan, buku referensi dan memoranda internal). Dari titik pandang pekerja, tak ada perbedaan mutlak antara saluran dan sumber. Sebuah saluran bisa berubah menjadi sumber dan begitu pula sebaliknya. Dalam makalah ini, kita memperhatikan jenis (misalnya, koleksi pribadi, ahli) dan lokasi (internal, eksternal) saluran dan sumber informasi.
- Permasalahan yang dipelajari dalam kajian ini adalah bagaimanakah kompleksitas tugas mempengaruhi pencarian informasi baik dalam hal jenis pencarian informasi dan saluran serta sumber informasi. Tujuan kajian ini adalah menunjukkan bukti kualitatif mengenai bagaimana dimensi kompleksitas tugas secara sistematis mempengaruhi kebutuhan dan pencarian informasi. Oleh karena kuatnya ketergantungan kebutuhan dan pencarian informasi pada tugas, maka sebuah model umum holistik dari pencarian dan penggunaan informasi harus memperhatikan dimensi kompleksitas tugas ini.

Kompleksitas Tugas
- Pekerjaan seorang pekerja terdiri dari tugas-tugas yang tersusun dari subtugas-subtugas lebih kecil. Tugas diberikan atau diidentifikasi oleh pekerja. Masing-masing tugas memiliki awal dan akhir yang diketahui, yang pertama berisikan stimulus dan garis pedoman yang dikenal yang berkaitan dengan tujuan dan/atau tindakan yang diambil (Hackman, 1969). Dilihat dengan cara ini, baik tugas besar atau subtugasnya (yang jelas lebih sederhana) dapat dianggap sebagai sebuah tugas.
- Dalam konteks pencarian informasi, yang menjadi fokus kajian adalah tugas yang terkait dengan informasi.
- Tugas yang terkait dengan proses pencarian informasi hádala tugas yang dirasakan (atau subyektif) atau tugas obyektif.
- Hubungan tugas obyektif dan yang dirasakan telah diperhatikan dalam psikologi organisasional (Campbell, 1988; Hackman, 1969; Wood, 1986) dimana deskripsi tugas didasarkan pada tugas yang dirasakan secara umum tak sah untuk tujuan apapun (misalnya, Roberts & Glick, 1981). Namun demikian, dalam studi ini tugas yang dirasakan lebih diperhatikan karena setiap pekerja dapat menginterpretasikan tugas obyektif yang sama secara berbeda (misalnya, memperhatikan kompleksitasnya) dan tugas yang dirasakan selalu membentuk dasar untuk kebutuhan informasi yang diinterpretasikan serta pilihan dari tindakan yang menjanjikan untuk memenuhinya.
- Kekompleksan tugas dapat dilihat dari: kemampuan mengulang, kemampuan menganalisa, kemampuan menentukan a priori, jumlah jalur alternatif pelaksanaan tugas, pembaharuan hasil akhir, jumlah tujuan dan ketergantungan konflik diantara mereka, ketidakpastian antara pelaksanaan dan tujuan, jumlah input, kognitif dan persyaratan keahlian, serta kondisi pelaksanaan tugas yang waktunya bervariasi (Campbell, 1988; Daft, dkk., 1988; Fisher, 1979; Fiske & Maddi, 1961; Hart & Rice, 1991; Jarvelin, 1986; March & Simon, 1967; MacMillan & Taylor, 1984; Tiamiyu, 1992; Tushman, 1978; Van de Ven & Ferry, 1980; Wood, 1986; Zeffane & Gul, 1993).

Kategorisasi Tugas
Dalam kajian ini, tugas dikelompokan kedalam lima kategori sebagai berikut:
• Automatic information processing tasks adalah apriori yang sempurna dapat ditentukan sehingga, pada prinsipnya, tugas ini dapat menjadi otomatis – meskipun bisa jadi tidak otomatis. Contohnya: perhitungan gaji bersih orang yang menghasilkan nominal nyata dalam skala tertentu dan ini memerlukan gaji kotor dan potongan pajak dirinya, serta tabel pajaknya.

Gambar 2.1. Kategori Tugas


• Normal information processing tasks adalah apriori yang nyaris sempurna dapat ditentukan namun memerlukan pertimbangan arbitrasi berbasis-kasus, misalnya cukupnya informasi yang dikumpulkan secara normal. Oleh karena itu, bagian dari proses dan informasi yang diperlukan adalah apriori yang dapat ditentukan. Contohnya: pemberian kode pajak yang didasarkan pada-aturan namun pada beberapa kasus hal itu membutuhkan kejelasan tambahan, yakni pengumpulan informasi yang tergantung pada kasusnya.
• Normal decision tasks masih cukup terstruktur tapi pada arbitrasi berbasis kasus, ini memiliki peranan besar. Contohnya: merekrut pekerja atau mengevaluasi ujian mahasiswa.
• Dalam known, genuine decision tasks tipe dan struktur hasil adalah apriori diketahui tapi prosedur permanen untuk melakukan tugas belum muncul. Sehingga prosesnya tak dapat ditentukan begitu pula dengan persyaratan informasinya. Contohnya: memutuskan tentang lokasi sebuah pabrik baru atau perencanaan jangka menengah organisasi.
• Genuine decision tasks adalah tak diharapkan, baru serta tak terstruktur. Sehingga tak satupun baik apakah itu hasil, proses atau pun persyaratan informasi yang dapat dikelompokan secara langsung. Pertimbangan pertamanya adalah penyusunan tugas. Contohnya: runtuhnya Uni Soviet dari sudut pandang pemerintahan negara lain.

Jenis-Jenis Informasi yang dibutuhkan dalam Tugas
Kategori informasi ini dapat dikelompokan sebagai berikut:
• Informasi yang berorientasi pada masalah menerangkan struktur, properti dan persyaratan dari permasalahan langsung. Misalnya, dalam pembangunan jembatan, informasi mengenai jenis dan tujuan jembatan serta pada lokasi dimana jembatan harus dibangun membentuk informasi yang berorientasi pada masalah. Secara tipikal, ini tersedia dalam permasalahan lingkungan – tapi dalam kasus permasalahan yang lama, hal itu juga tersedia dalam dokumen.
• Domain informasi terdiri dari fakta, konsep, hukum dan teori yang diketahui dalam domain permasalahan. Contohnya, dalam pembangunan jembatan, informasi tentang kekuatan dan menyebarnya panas dari konstruksi baja adalah masuk kedalam domain informasi. Secara tipikal ini menguji informasi ilmiah dan teknologi yang diterbitkan dalam artikel-artikel jurna dan buku teks.
• Penyelesaian masalah informasi meliputi metode mengatasi permasalahan. Penyelesaian masalah informasi ini menerangkan bagaimana permasalahan harus dilihat dan dirumuskan, permasalahan dan domain informasi apakah yang perlu digunakan (dan bagaimana) dalam usaha menyelesaikan permasalahan. Contohnya, dalam pembangunan jembatan, heuristik disain seorang insinyur mengenai pro dan kontra atas banyaknya disain jembatan menghasilkan penyelesaian permasalahan informasi. Ini adalah instrumental informasi dan secara tipikal hanya tersedia dari orang yang memiliki pengetahuan atau ahli dalam permasalahan tersebut.

Model Pencarian Informasi
- Ketika dihadapkan dengan banyaknya tugas sesuai konteksnya, pekerja yang melaksanakan tugasnya mengalami gap pada pengetahuannya sehingga informasi yang diperlukan harus mencerminkan interpretasi dirinya terhadap persyaratan informasi, pengalaman dan pengetahuannya yang terdahulu, serta kemampuannya dalam mengingat pengalaman dan pengetahuan tersebut.
- Faktor-faktor pribadi (misalnya, sikap, motivasi, mood) juga ikut berperan pula (Kuhlthau, 1991). Setelah banyak atau sedikit menganalisa kebutuhan serta mengenali tindakan-tindakan yang memungkinkan, ia kemudian memilih beberapa tindakan untuk memperoleh informasi yang diinginkan. Tindakan yang memungkinkan tersebut terdiri dari pemberian peringkat saluran dan sumber informasi yang akan dimanfaatkan.
- Setelah memilih sebuah tindakan, pekerja melaksanakannya serta mengevaluasi hasilnya. Model pencarian informasi seperti ini, yang didasarkan pada model oleh Feinman, dkk., (1976) dan Mick, dkk., (1980), dimuat dalam Gambar 2.2. Interpretasi tentang kebutuhan informasi dipengaruhi oleh faktor-faktor situasional (misalnya, waktu yang tersedia) dan organisasional.
- Pemilihan tindakan tergantung pada kebutuhan, kemampuan akses yang dirasakan (baik kognitif, ekonomik atau fisikal) terhadap saluran dan sumber informasi serta gaya pencarian informasi pribadi yang dibuat berdasarkan keberhasilan tindakan yang dilakukan. Kita sendiri fokus pada faktor dan fase yang ditunjukan dengan bentuk elips dan kotak tebal. Model ini menggambarkan lapisan pencarian informasi saat melaksanakan tugas – lapisan tugas lainnya dilakukan secara serempak.
- Tugas yang kompleks memerlukan beberapa pemrosesan melalui bagan alir pencarian informasi. Apabila kebutuhan telah dipenuhi, tugas (atau satu langkah yang melaluinya) dapat diselesaikan. Namun apabila kebutuhan tidak bisa dipenuhi, tugas tidak dapat diselesaikan sama sekali atau harus dirumuskan kembali. Jika informasi selanjutnya masih diperlukan, tindakan pencarian baru dimulai. Proses bisa saja terganggu kapan saja bila pekerja melihat tidak cara lain yang bisa dilanjutkan.
Gambar 2.2. Model Pencarian Informasi

- Teknik pengumpulan data dalam studi ini, adalah menggabungkan kuesioner dan diari. Diari cocok untuk pengumpulan data tentang pelaksanaan tugas dari sudut pandang individu sementara kuesioner adalah alat berguna untuk data tentang para pekerja yang dipelajari beserta organisasinya. Diari adalah semi terstruktur sehingga subyek relatif dapat bebas menerangkan aspek relevan dari tugasnya tapi dipaksa untuk memilih alternatif yang ada bila memang diperlukan. Sebagai tambahan, subyek memiliki peluang untuk memberikan pendapat tentang pemikiran-pemikiran mereka yang muncul selama pelaksanaan tugas.
- Kuesioner menggambarkan informasi tentang peserta (misalnya, pendidikan, pengalaman), pekerjaan mereka, sikap mereka terhadap pekerjaannya, faktor-faktor situasional yang mempengaruhi pekerjaannya, pandangan mereka tentang jenis informasi yang dibutuhkan dalam pekerjaannya, serta saluran dan sumber yang menyediakan informasi tersebut. Diari memuat tentang tugas pekerja, kebutuhan informasi yang dirasakan, saluran dan sumber, serta saluran dan sumber aktual yang dimanfaatkan sekaligus evaluasi terhadap informasi yang diperoleh. Kuesioner membentuk fase pertama dan diari fase kedua dalam pengumpulan data.
Gambar 3.1. Struktur Diari
Diari Tanggal Waktu Mulai
1. Jelaskan tugas anda dengan lengkap:
2. Jelaskan faktor-faktor situasional yang mempengaruhi tugas:
3. Ambisi apa yang menjadi tujuan anda dalam tugas: baik, hampir baik atau memuaskan?
4. Terangkan secara lengkap apa saja jenis informasi yang anda pikir anda butuh dalam melaksanakan tugas:
(a) pemikiran saat awal tugas:
(b) pemikiran yang muncul kemudian selama tugas:
5. Saluran dan sumber manakah yang perlu anda perhatikan (sebutkan pula mana yang tidak ingin anda gunakan)
(a) pemikiran saat awal tugas:
(b) pemikiran yang muncul kemudian selama tugas:
6. Berapa banyak waktu yang anda gunakan saat merencanakan pencarian informasi?
7. Saluran dan sumber manakah yang anda gunakan? (termasuk diri anda; sebutkan nama rekan untuk konsultasi; sebutkan saluran yang digunakan baik apakah anda mendapatkan sumbernya atau tidak):
Sumber Mengapa dipilih Saluran Mengapa dipilih Keberhasilan Kemampuan Penerapan



Keberhasilan: anda memperoleh informasi (a) keseluruhan, (b) sebagian, (c) tidak ada sama sekali
Kemampuan penerapan: informasi (a) dapat diterapkan dengan baik, (b) dapat diterapkan sebagian, (c) tidak dapat diterapkan sama sekali.
8. Apakah seluruh informasi yang diperoleh (a) cukup untuk tugas atau (b) tidak cukup untuk tugas?
9. Buatlah estimasi waktu yang dihabiskan untuk (a) pencarian informasi (b) atas keseluruhan tugas.

5. Kesimpulan berdasarkan temuan dan analisis data
- Berdasarkan pengembangan sebuah metode kualitatif untuk analisa tingkat-tugas terhadap dampak dari kompleksitas tugas pada pencarian informasi, yaitu ketika kompleksitas tugas meningkat, maka
• Kompleksitas informasi yang dibutuhkan meningkat,
• Kebutuhan akan domain informasi dan penyelesaian masalah informasi meningkat,
• Pangsa sumber bertujuan-umum meningkat sehingga permasalahan dan sumber yang berorientasi pada fakta menurun,
• Keberhasilan pencarian informasi menurun,
• Internalitas saluran menurun, dan
• Jumlah sumber meningkat
- Selanjutnya, metode dan penemuan ini sangat berharga didalam membuat bagan tindakan pencarian informasi di organisasi dalam usaha menyediakan dasar landasan yang baik untuk pengelolaan informasi.

Rabu, 24 Maret 2010

METADATA

1. Metadata merupakan data dari data, informasi dari data dan keterangan dari data. Di dalam metadata yang telah dikumpulkan oleh badan pemilik data tersebut , misalnya Badan Penelitian Terumbu karang , metadatanya meliputi data-data penelitian tentang terumbu karang dan aspek-aspek lain yang berhubungan dengan karang seperti : kualitas air, ikan karang, oseanografi dan juga data sosial ekonomi.

2. Metadata : Informasi yang disimpan, baik dalam bentuk media cetak ataupun format digital adalah data. Dalam dunia digital, data bisa mengalir melalui media tertentu, misal dari cakram DVD ke layar monitor atau TV, dari komputer ke komputer dalam jaringan lokal, atau di dunia internet dari host ke host antar negara. Manusia mengenali isi data dengan membaca atau mencermati isi datanya secara langsung, tak peduli kontainernya seperti apa, misalnya kita membaca koran, melihat poster dan reklame, iklan TV dan sebagainya. Dalam dunia sistem informasi di era digital ini sumber daya komputer memerlukan upaya yang lebih jika setiap interaksi komputer harus membaca dan menganalisis isi data tersebut. Sebagai kemudahan –tidak hanya dalam dunia digital– manusia mengenal konsep metadata, dari prefix meta yang secara umum mempunyai arti sebagai abstraksi data.

Metadata is data about data.

Saat kita mencari-cari buku cetak di perpustakaan, kita mencari-carinya dalam katalog. Sebuah deretan kertas kecil yang berisi judul buku, pengarang, penerbit dan informasi kecil lainnya yang cukup berarti yang disusun struktural. Pengelola perpustakaan menyediakan metadata dalam bentuk katalog untuk kemudahan pencarian. Lebih mudah mencari buku melalui katalog satu lemari dibandingkan harus mencarinya dengan berjalan dari rak ke rak buku di sebuah perpustakaan yang luas.

Metadata is information about data.

Informasi kecil yang cukup representatif dalam katalog memberikan kemudahan pencarian. Dunia komputer mempermudah hal tersebut, misalnya kita mencari sebuah nama berkas dokumen teks dalam sebuah harddisk berukuran 120GB, yang kita tahu hanya nama berkas. Pencarian tersebut dilakukan oleh komputer, kita hanya tinggal menunggu berkas tersebut sebenarnya ada di direktori mana.

Komputer dikendalikan oleh sistem operasi. Sistem operasi yang canggih semakin memudahkan manusia. Pencarian oleh komputer dipersingkat dengan komputer telah terlebih dahulu mengindeks semua data yang ada di komputer. Tidak hanya nama berkas yang harus anda ketahui dalam mencarinya, namun properti lain yang terkait dengan data bisa kita pakai sebagai kata kunci pencarian.

Tidak hanya metadata yang diindeks oleh komputer, isi data terutama teks juga diproses menjadi metadata dalam membangun indeks. Semakin memudahkan manusia melakukan pencarian. Dalam skala komputer personal memang belum semua sistem operasi mengindeks semua data yang ada dalam komputer. Dalam skala yang lebih besar, mesin pencari seperti Google melakukan pengindeksan milyaran halaman web agar pengakses internet lebih mudah melakukan pencarian.

Seluruh halaman web yang diindeks oleh Google tentu tidak struktural. Namun ketidakstrukturalan tersebut masih diupayakan lebih terstruktur, misalnya Google menerapkan indeks melalui parameter metatag halaman web, teks heading, teks empasis, selain dari nama URL. Peluang peringkat hasil pencarian juga ditentukan oleh skor PageRank yang diimplementasikan oleh Google. Jadi hasil pencarian sesuatu yang kita lakukan di Google adalah sebenarnya hasil pencarian dari indeks yang dibuat Google dan Google mengindeks dari seluruh data yang dikumpulkan oleh robot-robot pencarinya.

Metadata is information about information.

Secara bertingkat proses di atas adalah menyusun data dari data, data disusun lagi menjadi data, terus berulang, ripitum ad infinitum, hingga kita sendiri bisa terkecoh mana data dan mana metadata, sebab metadata adalah data juga. Akhirnya arti metadata menjadi lebih global, menjadi informasi tentang informasi, mengikuti evolusi dunia informasi, segalanya adalah informasi.

Dalam praktik keseharian metadata ini sering dilupakan pengguna untuk kasus “metadata yang harus ditulis oleh manusia”. Saat kita membuat berkas kita harus menuliskan nama berkas tersebut ke dalam media penyimpanan data. Tanggal penyimpanan dan format otomatis dituliskan oleh komputer. Di dunia Windows, saat Microsoft beralih dari format nama berkas 8.3 (8 karakter nama berkas, 3 karakter ekstension) menjadi 256 karakter ada kecenderungan orang menuliskan metadata dalam nama berkas, misalnya membuat dokumen kuliah dengan nama berkas “Tugas AR-6868 Kasus Studi Numerik Semester Tujuh tahun 2068 siap diprint yang dosennya Profesor Anu yang sangat menyebalkan deh.doc”

Format digital lain kini semakin seksama dalam hal metadata, misalnya anda membeli lagu dari iTunes, tak hanya lagu yang anda dapatkan tapi juga termasuk metadatanya yang cukup komplet, nama penyanyi, album, tahun, nomor trek, genre, gambar sampul CD dan lainnya menyertai lagu tersebut sehingga aplikasi maupun sistem operasi tak hanya menampilkan nama berkasnya saja, dan implementasi metada ini menjadi kemudahan kita dalam melakukan pencarian atau penyortiran berkas. Selain metadata struktural seperti di atas kita pun mengenal metadata yang tidak struktural, yaitu label atau tag dalam konsep folksonomi.

Begitu pula dengan hasil kamera digital dalam bentuk EXIF, gambar format JPG yang kita transfer ke komputer selain berisi gambarnya itu sendiri juga disertai dengan metadata setting kamera, besaran bukaan, kecepatan shutter, ISO, white balance dan banyak lainnya yang suatu saat pasti berguna dalam dunia komputasi. Contoh sederhana dalam implementasinya adalah di Flickr, kita bisa mencari foto khusus yang dihasilkan kamera tertentu, fitur ini bisa terjadi karena setiap foto yang dikirim ke Flickr disertai dengan metadata EXIF yang dihasilkan oleh kamera.

Fundamentally, then, metadata is “the data that describe the structure and workings of an organization’s use of information, and which describe the systems it uses to manage that information”.

(sumber : http://yulian.firdaus.or.id/2007/02/06/metadata/)

3. METADATA
Data merupakan sekumpulan simbol-simbol terstruktur yang memiliki makna tertentu dan dapat dikelompokkan berdasar maknanya atau fungsinya dalam suatu konteks domain tertentu. Data dapat disusun dari kumpulan karakter-karakter alphabetis, numerik, garis atau gambar yang memiliki maksud/makna tertentu. Data-data yang saling berhubungan dapat disusun dan saling dikaitkan untuk dibentuk sebagai penjelas sesuatu yang lebih kompleks. Bentuk kumpulan data yang terkait ini biasanya dikenal sebagai Informasi.


Didalam dunia pengolahan data dan informasi ada istilah yang tidak asing lagi, yaitu METADATA. Metadata adalah istilah saja dari proses pengidentifikasian suatu atribut dan struktur dari sebuah data atau informasi. Konsep ini sudah lama ada hanya mungkin baru saja dikenalkan dan diketahui oleh banyak pihak setelah terjadinya revolusi di bidang Teknologi Informasi. Ada pihak yang menyebut istilah Metadata ini sebagai data yang menjelaskan sebuah data itu sendiri ( Data about data ). Banyak standar metadata yang sudah dipublikasikan saat ini, namun yang paling banyak dipakai adalah bentuk metadata MARC dan Dublin Core. Di Indonesia sendiri MARC sudah diadopsi menjadi INDOMARC.

MARC dan INDOMARCH (Machine Readable Cataloging)

Metadata ini sudah lama dipakai di kalangan perpustakaan sebagai standar katalogisasi. Di Indonesia MARCH diadopsi menjadi INDOMARCH agar memudahkan identifikasi proses katalogisasi yang sesuai dengan kaidah dan kesepakatan para pustakawan di Indonesia. Format INDOMARC merupakan implementasi dari International Standard Organization (ISO) Format ISO 2719 untuk Indonesia, sebuah format untuk tukar-menukar informasi bibliografi melalui format digital atau media yang terbacakan mesin (machine-readable) lainnya.

Dublin Core

Dublin Core merupakan salah satu metadata yang digunakan untuk web resource description and discovery. Dublin Core dihadirkan karena ada beberapa pihak yang merasa kurang sesuai untuk menggunakan bentuk MARC sehingga diadakan suatu kesepakatan menyusun sebuah metadata baru yang lebih mudah dan fleksibel serta mempunyai kemampuan untuk dikembangkan dibanding MARC. Informasi mengenai metadata ini dapat Anda temui di http://www.dublincore.org.

Metadata data dublin core tersusun atas 15 element dasar yaitu :

• Title : judul dari sumber informasi
• Creator : pencipta sumber informasi
• Subject : pokok bahasan sumber informasi, biasanya dinyatakan dalam bentuk kata kunci atau nomor klasifikasi
• Description : keterangan suatu isi dari sumber informasi, misalnya berupa abstrak, daftar isi atau uraian
• Publisher : orang atau badan yang mempublikasikan sumber informasi
• Contributor : orang atau badan yang ikut menciptakan sumber informasi
• Date : tanggal penciptaan sumber informasi
• Type : jenis sumber informasi, nover, laporan, peta dan sebagainya
• Format : bentuk fisik sumber informasi, format, ukuran, durasi, sumber informasi
• Identifier : nomor atau serangkaian angka dan huruf yang mengidentifikasian sumber informasi. Contoh URL, alamat situs.
• Source : rujukan ke sumber asal suatu sumber informasi
• Language : bahasa yang intelektual yang digunakan sumber informasi
• Relation : hubungan antara satu sumber informasi dengan sumber informasi lainnya.
• Coverage : cakupan isi ditinjau dari segi geografis atau periode waktu
• Rights : pemilik hak cipta sumber informasi

Referensi :

* Dublin Core Website. http://www.dublincore.org
* Konsep dan Perencanaan dalam Automasi Perpustakaan by Ikhwan arif

(sumber : http://librarycorner.org/2007/03/02/data-dan-metadata/)

4. Definisi sederhana dari metadata adalah data mengenai data. Metadata ini mengandung informasi mengenai isi dari suatu data yang dipakai untuk keperluan manajemen file/data itu nantinya dalam suatu basis data. Jika data tersebut dalam bentuk teks, metadatanya biasanya berupa keterangan mengenai nama ruas (field), panjang field, dan tipe fieldnya: integer, character, date, dll. Untuk jenis data gambar (image), metadata mengandung informasi mengenai siapa pemotretnya, kapan pemotretannya, dan setting kamera pada saat dilakukan pemotretan. Satu lagi untuk jenis data berupa kumpulan file, metadatanya adalah nama-nama file, tipe file, dan nama pengelola (administrator) dari file-file tersebut.

(sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Metadata)

Selasa, 19 Mei 2009

Katalogisasi Part. 1

Poin 1. Konsep-konsep Katalogisasi dan penerapannya dalam pusat informasi
2. Ruang Lingkup Katalog
3. Bisa membuat katalog
4. Dinamis dengan perkembangan katalog dalam penerapannya di dunia nyata
5. Mengenal AACR2
6. Mengenal Online Cataloging System
7. Ruang Lingkup Online Cataloging System
8. Cataloging Network, Marc Project, IFLA's UBC, etc.
9. Memahami Katalogisasi Deskriptif, pengertian, everview, contoh dan praktek

Referensi RS Kochar (1998). Principles and Practices of Catalouging. Rajat Publication, India.
Michael Gorman & Paul W Winkler (1998). AACR2 2nd Ed.
Kerr Toner (2007). Descriptive Catalouging I: Overvie of Major Concepts and Developments. Coudfield Schools of IT, Monash University

Part 1 Pengantar Katalog


Definisi deskripsi/daftar dari suatu item yang telah diorganisir dan disusun secara sistematis
deskripsi dari suatu bibliografi atau koleksi
Bentuk Laci-laci susun, yang disusun berdasarkan nama pengarang. Berisi kartu katalog berukuran 12.5 x 7.5 cm atau 3 inch x 5 inch. Kartu katalog masih manual dan berpengaturan baku.
Katalog Online, katalog yang diterbitkan dalam suatu sistem komputer. Berisikan sama dengan kartu katalog, hanya saja pada katalog online deskripsi informasinya lebih lengkap dan tidak terbatas ukuran kertas. Pada katalog online, kita bisa melihat status peminjaman buku tsb. Katalog online tidak baku dan lebih dinamis.
Katalog Buku, berupa buku yang berisikan informasi pengarang serta buku-buku pengarang tsb yang tersedia.
Katalog Berkas, berisi berkas-berkas yang bisa ditambah.
Fungsi Menunjukkan lokasi sebuah dokumen/buku dalam sebuah koleksi, memberikan informasi mengenai literary unit, dimana tersedia seluruh karya dari pengarang yang sama.
Untuk mendeskripsikan tiap-tiap karya.
Setiap pustakawan/library harus mengadakan pendekatsn-pendekatan tertentu terhadap katalognya.
Konsep Entri Utama dan Tambahan.
Entri Utama/Main Entry, prinsipal entry suatu karya dalam katalog.
Entri Tambahan/Added Entry, entri tambahan yang digunakan sebagai alternative access point dan biasanya lebih singkat.
Kebutuhan untuk mengidentifikasi entri utama untuk akses poin adalah hal utama dalam proses pengkatalogan. Sejak awal abad 19, AACR2R masih memegang konsep tsb meskipun dirasa kurang relevan diterapkan di web/online environment.
Pengarang vs Judul
Tradisi Anglo-American lebih memilih pengarang sebagai entri utama, karena pengarang adalah individu yang bertanggung jawab terhadap suau karya.
Cataloging System di Eropa dan Asia lebih memilih menggunakan judul sebagai entri utama, karena dengan begitu memilih koleksi akan lebih mudah dan efisien.

Selasa, 18 November 2008

NILAI INFORMASI

Menurut Burch dan Strater dalam buku mereka, Information Systems: Theory and Practice, nilai informasi itu didasarkan atas sepuluh sifat sebagai berikut.

  1. Mudahnya dapat diperoleh

Sifat ini menunjukkan mudahnya dan cepatnya dapat diperoleh keluaran informasi. Kecepatan memperolehnya dapat diukur, misalnya 1 menit versus 24 jam. Akan tetapi, berapa nilainya bagi pemakai informasi, sulit mengukurnya.

  1. Sifat luas dan lengkapnya

Sifat ini menunjukkan lengkapnya isi informasi. Hal ini tidak berarti hanya mengenai volumenya, tetapi juga mengenai keluaran informasinya. Sifat ini sangat kabur dan, karena itu, sulit mengukurnya.

  1. Ketelitian

Sifat ini berhubungan dengan tingkat kebebasan dari kesalahan keluaran informasi. Dalam hubungannya dengan volume data yang besar biasanya terjadi dua jenis kesalahan, yakni kesalahan pencatatan dan kesalahan perhitungan. Banyak segi sifat ini yang dapat diukur. Misalnya: Berapakah tingkat kesalahan dalam tiap seribu faktur yang dipersiapkan oleh system yang menggunakan tangan disbanding dengan system yang menggunakan komputer? Berapa nilai kesalahan yang berkurang? Misalnya, apakah pengurangan 10 % kesalahan dalam pengajuan rekening menambah penjualan dengan ½%?

  1. Kecocokan

Sifat ini menunjukkan betapa baik keluaran informasi dalam hubungannya dengan permintaan para pemakai. Isi informasi harus ada hubungannya dengan masalah yang sedang dihadapi; semua keluaran lainnya tidak berguna, tetapi mahal mempersiapkannya. Sifat ini sulit mengukurnya.

  1. Ketepatan waktu

Sifat ini berhubungan dengan waktu yang dilalui yang lebih pendek daripada siklus dapat diperolehnya informasi: masukan, pengolahan, dan pelaporan keluaran kepada para pemakai. Biasanya, agar informasi itu tepat waktu, lamanya siklus ini harus dikurangi. Dalam beberapa hal ketepatan waktu dapat diukur. Misalnya, berapa banyak penjualan dapat ditambah dengan memberikan tanggapan segera kepada permintaan langganan mengenai tersedianya barang-barang inventaris?

  1. Kejelasan

Sifat ini menunjukkan tingkat keluaran informasi, bebas dari istilah-istilah yang tidak jelas. Membetulkan laporan dapat memakan biaya yang besar. Berapa biaya yang dibutuhkan untuk memperbaiki laporan ini?

  1. Keluwesan

Sifat ini berhubungan dengan lebih dari satu keputusan, tetapi juga dengan lebih dari seorang pengambil keputusan. Sifat ini sulit mengukurnya, tetapi dalam banyak hal dapat diberikan nilai yang dapat diukur.

  1. Dapat dibuktikan

Sifat ini menunjukkan beberapa pemakai informasi untuk menguji keluaran informasi dan sampai pada kesimpulan yang sama.

  1. Tidak ada prasangka

Sifat ini berhubungan dengan tidak adanya keinginan untuk mengubah informasi guna mendapatkan kesimpulan yang telah dipertimbangkan sebelumnya.

  1. Dapat diukur

Sifat ini menunjukkan hakikat informasi yang dihasilkan drai system informasi formal. Meskipun kabar angina, desas desus, dugaan-dugaan, klenik, dan sebagainya sering dianggap sebagai informasi, hal-hal tersebut berada di luar lingkup pembicaraan kita.

Meskipun banyak segi sifat-sifat ini yang sulit mengukurnya, seorang penganalisis harus menggunakannya apabila ia akan menentukan nilai informasi versus biayanya. Masalahnya adalah: Berapakah biaya suatu bagian informasi suatu bagian informasi bagi penerimanya?

Gordon B. Davis dalam bukunya, Management Information Systems: Coceptual Foundations, Structure, and Development, menyatakan nilai informasi itu sebagai berikut.

The value of perfect information is computed as the difference between the optimal policy without perfect information and the optimal policy without perfect information. The value of perfect information in this example involves only one state of nature, so that once an alternative is chosen, the choiceis the one that has the highest outcome. The only uncertainty is the value of each outcome.

Nilai Informasi yang sempurna adalah bahwa pengambil keputusan diizinkan untuk memilih keputusan optimal dalam setiap hal, dan bukan keputusan yang ‘rata-rata’ yang akan menjadi optimal, dan untuk menghindarkan kejadian-kejadian yang menyebabkan kerugian. Akan tetapi, informasi yang sempurna mungkin tidak ada. Dalam hal demikian, perkiraan-perkiraan hasil sebelumnya mungkin dipengaruhi oleh informasi tambahan, meskipun informasi tersebut tidak memberikan kepastian. Informasi yang tidak sempurna sesungguhnya merupakan informasi dari uji petik (sampling). Informasi ini tidak sempurna karena terlalu banyak memberikan perkiraan-perkiraan daripada memberikan suatu angka yang pasti.

Paham informasi yang tidak sempurna berlaku dalam banyak situasi dimana sampling atau pengamatan pasar mungkin memperoleh informasi yang tidak sempurna untuk diapakai pada analisis keputusan. Langkah-langkah dalam proses pengambilan keputusan, menurut Gordon B. Davis, adalah sebagai berikut.

1. Determine the best action based on prior probabilities.

2. Determine whether it will be worthwhile to obtain sample information.

3. Determine optimal sample size

4. Sample

5. Revise prior probabilities based on sample data.

Rabu, 12 November 2008

Perbandingan Electronics Saving dan Non Electronics Saving

Umumnya, media penyimpan dapat dikategorikan menjadi 2 macam, yakni media penyimpan elektronis dan media penyimpan non-elektronis. Berikut beberapa perbandingan kedua media penyimpan tersebut.

  1. Media Penyimpan Elektronis/Digital

Kelebihan yang dimiliki berupa:

    • Dapat diakses jarak jauh
    • Dapat dipakai secara massal
    • Menggunakan PC sebagai alat pemrosesan arsip
    • Adanya fasilitas antivirus
    • Tempatnya acces control (password)
    • Dipakai untuk lebih dari satu kepentingan
    • Praktis dan hemat biaya
    • Hemat tempat karena disimpan dalam CD dan diletakkan di lemari khusus
    • Sederhana, fleksibel dan daya tampung cukup banyak
    • Proses temu kembali lebih mudah dan cepat
    • Menimbulkan ketertarikan user (modern)

Kekurangan yang ada berupa:

· Tidak semua user bisa mengakses komputer (gaptek)

· Rentan terhadap virus dan hacker

· Sangat tergantung pada hubungan listrik

  1. Media Penyimpan Non-Elektris/Analog

Kelebihan yang dimiliki berupa:

· Tidak menggunakan PC dalam proses penyimpanan

· Dapat digunakan semua jenis user tanpa perlu menguasai teknik pengoperasian computer

· Data yang disimpan tidak terancam virus

Kekurangan yang ada berupa:

· Tidak dapat diakses jarak jauh

· Tidak praktis dan boros biaya

· Proses temu kembali kurang efisien

· Tidak dapat digunakan secara massal

· Membutuhkan tempat yang besar

· Keamanan arsip tidak terjamin

Untuk menunjang teks diatas, berikut saya lampirkan beberapa artikel yang berkaitan dengan media penyimpan yang saya dapat dari.

· http://beta.tnial.mil.id/cakrad.php3?id=356 - 44k

· http://cybertech.cbn.net.id/cbprtl/common/ptofriend.aspx?x=Review&y=cybertech%7C4%7C0%7C5%7C801

Minggu, 09 November 2008

Kualitas Informasi - KuL minggu ke-9

Overview
  • Perkembangan IT memicu kecepatan siklus informasi dimulai dengan:
1. Penciptaan (creation) 2. mengolah (manage) 3. penyebaran (deploy/distribute)
  • Internet membantu penyebarab informasi sampai ke seluruh wilayah
  • internet juga tidak mampu menyaring semua informasi yang ada (siapapun bisa menyiarkan informasi)
Kriteria Informasi Berkualitas
  1. Area yang dicakup (scope ofcoverage), sejauh mana sumber-sumber informasi tersebut mengeksplor suatu topik dengan memperhatikan beberapa hal sbb: waktu, letak geografis dan kedalaman topik.
  2. Otoritas (authority), menunjukkan pertanggungjawaban kepengarangan.
  3. Obyektifitas, adalah sebuah bentuk kejujuran dalam menilai suatu hal, hal ini berlaku juga terhadap informasi. Apakah informasi ini obyektif, yakni informasi yang disampaikan tidak mengandung maksud tersembunyi, tidak memihak, dan tidak menghakimi.
  4. keakuratan, ketepatan suatu informasi sangat penting untuk mengukur apakah suatu informasi berkualitas atau tidak.Akurat berarti informasi bisa diandalkan dan dipakai sebagai sumber rujukan yang terpercaya.
  5. Konteks waktu, waktu yang dicakup dalam suatu informasi, up to date apakah old fashion. Informasi sangat berkembang pesat, setiap hari muncul informasi-informasi yang memicu percepatan pergantian informasi.

Musik, Teknologi dan Segala Isinya

Informasi mengenai dunia musik membanjiri dunia saat teknologi diaplikasikan didalamnya. Ketika pada tahun 1999 industri rekaman meraup untung $14.6 dan pertumbuhan sebesar 6 persen dalam setahun, industri musik juga mengalami perkembangan dalam penjualan per lagu suatu album dan dihargai per lagu melalui suatu proses download yang dilakukan di dunia maya. Hal ini membantu konsumen yang hanya menyukai satu lagu dalam suatu album untuk membeli/download per lagu pada situs penyedia (server). Sayangnya, tidak semua server di internet legal. Banyak sekali server-server yang menyediakan konten download gratis. Dalam hal ini teknologi dianggap merugikan bagi industri musik dan musisi. Namun di sisi lain, pembajakan yang merupakan bagian dari kecanggihan teknologi, juga tidak bisa disepelekan oleh musisi. Tidak jarang banyak musisi terkenal di suatu daerah karena banyaknya kaset, vcd dan dvd bajakan tersebar di daerah tersebut. Hal-hal ini membuat kita dilema akan adanya teknologi. Keterbatasan internet untuk menyaring informasi termasuk salah satu sebab adanya hal ini.
Tentunya, kita tidak bisa dan tidak boleh menolak teknologi di dunia seperti sekarang ini. Oleh karena itu, kebijakan kita sebagai manusia obyektiflah yang akhirnya membantu kita menyikapi hal ini.